Hindari Pemimpin Over Dosis Diskusi, Minim Eksekusi

132
0

Oleh : Usman Kusmana, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr PCNU Kabupaten Tasikmalaya

Dalam menjalankan tata kelola pemerintahan, semua stakeholder terkait berperan penting merumuskan perencanaan, melaksanakan hingga mengawasi dan mengevaluasi keluaran.

Produk kebijakan publik pasti tak bisa lepas dari percikan ide dan gagasan yang berkembang menjadi wacana.

Baca juga : Soal Perencanaan Anggaran yang Dinilai tak Pro Rakyat, Begini Kata Sekda Kabupaten Tasik

Kemudian mengkristal menjadi sebuah nomenklatur judul program kegiatan dengan input nominal tertentu dengan indikator capaian dan target tertentu.

Dalam merumuskan sebuah kebijakan diskusi itu penting, elaborasi pemikiran dan gagasan juga tak bisa dinafikan.

Tapi bersegera menjadi sebuah keputusan teknis dan eksekusi tentu juga penting.

Ritme diskusi dan melebarkan terus pembicaraan tataran ide hingga berlarut-larut hanya akan membuat lelah dan menghabiskan waktu percuma.

Fungsi dan kekuatan seorang pemimpin adalah pada kematangan ide dan bacaan dan juga ketajaman eksekusinya.

Seorang pemimpin boleh jadi pintar dan benar tapi jangan merasa paling pintar dan paling benar. Paling menguasai dan memahamai persoalan.

Kemampuan sebenarnya dari seorang pemimpin adalah kecepatan dan ketepatannya dalam mengambil keputusan, mengeksekusi sebuah kebijakan dan kesiapannya menghadapu berbagai risiko atas keputusan yang diambilnya.

Seorang pemimpin akan berdiri paling depan, memberi guidance dan bersegera mendorong anak buahnya untuk menyelesaikan segala urusan dan masalah yang memang harus ditangani. Secara terukur dan berpijak pada aturan normatif yang melandasinya.

Seorang pemimpin bukan dia yang membuat bingung bawahannya dengan berbagai diskusi ide yang tak berujung eksekusi teknisnya atau setidaknya dibuat berlarut-larut.

Karena itu akan membingungkan anak buah dan terkesan lambat bekerja. Apalagi jika keputusan dan eksekusi itu ditunggu oleh penerima manfaatnya, yaitu masyarakat.

Over dosis diskusi ide dan gagasan yang tak berujung pangkal eksekusi hanyalah mainannya kaum sophis, yang hobinya berwacana dan berdialaektika.

Itu hanya cocok bagi kaum pemikir dan philosofis dan akademis. Bagi peminpin pemerintahan di semua tingkatan, hal itu hanya akan menunjukan bahwa kinerja sang penimpin itu gagap dan lambat.

Padahal hari ini dibutuhkan pemimpin yang berpikir dan bertindak cepat dan tepat. Kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan bagi seorang pemimpin akan menunjukkan kelasnya tersendiri.

Apakah dia kelasnya hanya senang berpuisi dan merangkai kata indah nan berbusa-busa atau kelas seorang leader yang cepat dan tanggap memutuskan dan mengambil tindakan plus risikonya.

Karena seorang pemimpin juga butuh menjadi sandaran kyakinan dan ketenangan bagi anak buahnya ketika menjalankan sebuah kebijakan menyangkut urusan publik.

Baca juga : Soal THR, Disnaker Kabupaten Tasik Minta Pengusaha Berdialog dengan Pekerja

Karena seorang pemimpin adalah bukan dia yang pandai lepas tangan, apalagi sampai menakut-nakuti.

Justru dia akan mengambil tanggungjawab dan menghadapinya dengan kesatria tanpa harus mencelakakan anak buahanya. So, bagi pemimpin atau calon pemimpin, kurangilah diskusi, perbanyaklah eksekusi. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.