HNSI: Lobster di Pangandaran Harus Dilestarikan

85
0
Loading...

PANGANDARAN – Ditangkapnya Menteri Kelautan dan Perikanan RI Edhy Prabowo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung mendapatkan reaksi dari nelayan Pangandaran.

Hal tersebut tidak mengherankan, karena sebelumnya Edhy pernah mengeluarkan kebijakan soal ekspor baby lobster atau benur, yang ditentang banyak nelayan Pangandaran.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran Fuad Husen mengatakan bahwa kebijakan Edhy Prabowo soal ekspor baby lobster sangat berbanding terbalik dengan kebijakan menteri sebelumnya Susi Pudjastuti, dimana pola pembangunan perikanan yang dipakai sifatnya berkelanjutan. “Jadi seperti kualat dari nelayan,” ungkapnya berkelakar saat dihubungi, Rabu (25/11).

Kata dia, saat Susi mengeluarkan aturan mengenai larangan ekspor benih lobster, tiba-tiba keluar peraturan menteri (Permen) yang diluar dugaan, saat Edhy menjadi menteri. “Pengaplikasian Permen soal ekspor benur ini juga kurang ketat di lapangan, “jelasnya.

Kemudian ia menyinggung soal keberlangsungan biota laut tersebut ke depannya, karena jika diburu terus maka kemungkinan terburuknya akan habis. “Populasinya bisa saja habis, kalau benihnya terus diekspor,” ungkapnya.

loading...

Baca juga : Akhirnya Para Pedagang Pasar Pananjung Pangandaran Jalani Swab Test Masal

Kata dia kebijakan menteri Susi justru lebih bisa diterima, karena berusaha untuk menyelamatkan lobster yang semakin langka. “Orang lain ada penebaran bibit lobster, eh ini malah diambil lagi karena kebijakan menteri Edhy,” katanya.

Seorang Supplier Benur asal Kalipucang Wahyudi (40) menilai, kebijakan Edhy Prabowo terkait ekspor benur itu dinilai kurang tepat karena hingga saat ini belum terlihat dampak yang baik bagi para pengusaha benur di Pangandaran.

“Kalau menurut saya kurang tepat, karena masih banyak sistem yang belum clear di Pangandaran. Jadi, belum terlihat dampaknya, tapi mungkin kalau 5 tahun ke depan bisa berpengaruh besar,” ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, ekspor benih lobster tersebut bakal merugikan supplier lobster besar yang sudah siap untuk dikonsumsi karena bibit benurnya diambil dan dampaknya bisa mengurangi pasokan lobster besar.

“Dampak baiknya belum terasa, apalagi untuk di Pangandaran SKB-nya belum keluar, jadi perizinan (ekspor, Red) di Pangandaran tidak diperbolehkan,” kata Wahyudi. (den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.