Honorer Disabilitas Berharap Jadi PNS

56
0
Dodo Zakaria , Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis

CIAMIS – Honorer disabilitas berharap menjadi pegawai negeri sipil. Mereka ingin pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus mengangkat disabilitas menjadi abdi negara.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis Dodo Zakaria menjelaskan di organisasi yang dipimpinnya ada ratusan disabilitas yang berjuang menjadi PNS. Rata-rata, mereka mengabdi belasan tahun menjadi tenaga pendidik di sekolah dasar.

“Bahkan saking ingin jadi PNS hingga ada yang tes sampai tiga kali, sampai sekarang tidak bisa daftar lagi, karena terbentur usia, “ ujar Dodo ditemui di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis Senin (19/8) sekitar pukul 10.00.

Pihaknya sangat berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus untuk mengangkat honorer disabilitas menjadi abdi negara. Karena sampai saat ini honorer disabilitas terus berjuang dengan keterbatasannya untuk mengajar para generasi anak bangsa di sekolah. “Semoga pemerintah bisa ada kepedulian kepada para honorer disabilitas,” ujarnya berharap.

Salah seorang disabilitas M Nasirun (46) bercerita. Warga Dusun Merejan RT 4/4 Desa Ratawangi Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis ini sehari-hari menjadi tenaga pengajar. Statusnya honorer.

Meski tinggal di Ciamis, dia menjadi pengajar di SDN 1 Binangun Kota Banjar. Per bulan, dia mendapatkan honor Rp 300.000. Honor tersebut sudah naik. Sebelumnya, pria yang menjadi honorer sejak 2002 itu mendapatkan Rp 25.000 setiap bulan.

“Dengan harapan lewat jalur tenaga honorer mudah-mudahan ada kemudahan, nyatanya tetap saja belum bisa jadi PNS, meski sudah tiga kali ikut tes, sekalipun ada tes CPNS secara online tapi usia sudah enggak bisa kalau sekarang,” ujar Nasirun dihubungi Radar.

Sudah sejak lama Nasirun ingin menjadi PNS. Ketika usianya masih di bawah 30 tahun, Nasirun sudah mengikuti ujian PNS. Dia berkali-kali mengikuti ujian masuk PNS. Namun semuanya gagal. Apalagi setelah ada aturan baru soal batas maksimal usia untuk mengikuti ujian PNS yang maksimal 35 tahun. Padahal di sisi lain ada Undang-Undang Disabilitas.

“Pertanyaan itu lah yang selalu berkecamuk di benak saya, lebih dari dua kali saya ikut tes CPNS dan gagal lagi, sementara usia hampir kepala lima, musnah sudah semua apa yang selama ini saya impikan,” ujarnya.

Anggota Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Ciamis Nurmutaqin, sebelumnya, meminta pemerintah pusat mengangkat tenaga honorer kategori dua (K2) menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Mereka layak jadi PNS lantaran sudah mengabdi puluhan tahun. Bahkan, sudah ada yang meninggal dunia sebelum jerih payahnya dihargai oleh pemerintah.

“Kami berharap pemerintah pusat bisa menuntaskannya jadi PNS sebagai penghargaan pemerintah terhadap pengabdian mereka yang telah mengabdi kepada negara belasan hingga puluhan tahun,” ujar Nurmutaqin kepada Radar, Minggu (18/8).

Menurut dia, honorer K2 dua sudah berjuang mendidik para pelajar tanpa pamrih seperti halnya para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Para honorer juga mendapatkan gaji yang kurang dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan, saat ini ada honorer yang sudah berusia 40 tahun tak bisa lagi berharap menjadi PNS. “Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah agar semua honorer K2 bisa diprioritaskan dalam pembukaan CPNS nanti dengan mencabut peraturan pembatasan dalam usia,” tuturnya. (isr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.