Beranda Tasikmalaya Honorer Tasik Tolak Tes CPNS, Khawatir Pelaksanaan Terjadi Kecurangan

Honorer Tasik Tolak Tes CPNS, Khawatir Pelaksanaan Terjadi Kecurangan

231
BERBAGI

TASIK –  Para guru honorer kategori 2 (K2) di Tasikmalaya menolak tegas rencana pemerintah pusat yang mengharuskan honorer mengikuti tes untuk menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Ketua Forum Honorer Kategori 2 Seluruh Indonesia (FHK2I) Kabupaten Tasikmalaya Nasihin SPdi menegaskan pihaknya menolak jika pendaftaran CPNS bagi honorer tahun ini dilakukan dengan tes.

“Kita sangat menolak, karena komitmen awal semua guru honorer K2 akan diangkat secara otomatis. Kalau tetap harus ikut tes, kita akan memilih tidak akan ikut daftar CPNS,” ungkapnya di sekretariat FHK2I Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (4/4).

Namun pihaknya memberikan keleluasaan bagi honorer yang usianya dibawah 35 tahun yang ingin ikut tes CPNS. ”Kami tidak melarang (honorer dibawah 35 tahun, Red) ikut daftar, bahkan lewat jalur pelamar umum sekali pun,” tuturnya.

Menurut Nasihin, alasan pihaknya tidak mau ikut tes CPNS karena  honorer K2 yang usia 35 tahun ke atas bisa kalah bersaing dengan pelamar umum yang usianya masih di bawah 30 tahun.  Selain itu, dirinya khawatir jika ikut tes ada praktek kecurangan dalam pengangkatan CPNS-nya. ”Apalagi kami (honorer K2) sudah dites tahun 2013, sehingga kenapa harus dites lagi,” ungkapnya.

Nasihin menjelaskan seharusnya pemerintah pusat melihat dari sisi kinerja honorer K2 yang sudah belasan sampai puluhan tahun mengabdi. “Jadi tidak perlu tes, tetapi memberikan apresiasi kepada honorer K2 yang sudah mengabdi secara maksimal,” paparnya.

Sekretaris FHK2I Kabupaten Tasikmalaya Ade Herman menambahkan pihaknya mendesak pemerintah pusat mengkaji kembali pengangkatan CPNS honorer dengan cara dites. ”Kami minta kebijakan honorer K2 yang sudah puluhan tahun mengabdi langsung diangkat jadi PNS,” terangnya.

Sementara itu, Komunitas Tenaga Sukarelawan Indonesia (KTSI) Kota Tasikmalaya keberatan dengan kebijakan guru honorer tetap harus ikut tes CPNS. Mereka tidak ingin disamakan dengan para peserta yang belum melakukan pengabdian. “Pekerjaan guru honorer pada dasarnya tidak beda dengan guru PNS. Mereka mendidik siswa di kelas dan menyusun berkas kelengkapan administrasi. Tapi justru terkadang honorer malah diberi beban lebih,” ujar Bendahara KTSI Kota Tasikmalaya Dadang Gunawan kepada Radar, kemarin.

Akan tetapi, kata dia, apresiasi dalam bentuk finansial dari lembaga atau negara jumlahnya sangat jauh dari kata cukup.  Bahkan jika membuat perhitungan, para guru honorer ibarat menyumbang dana kepada negara setiap bulannya. “Honorer paling hanya Rp 500 ribu dan PNS paling rendah sebut saja Rp 3 juta, dengan beban yang serupa setiap honorer bisa dikatakan menyumbang Rp 2,5 juta perbulan bagi negara,” bebernya.

Untuk itu, pihaknya merasa keberatan jika para guru honorer terutama yang mengabdi bertahun-tahun disamaratakan dengan peserta CPNS yang belum melakukan pengabdian. “Karena bagaimana pun negara harus memberikan nilai tambah bagi guru honorer dalam proses pengangkatan,” tuturnya.

Dadang pun mengharapkan kebijakan soal pembatasan usia maksimal 35 tahun bisa dihapus dalam regulasi pendaftaran CPNS. Sebab aturan tersebut otomatis memupuskan harapan honorer K2 yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri. “Menurut saya semua guru honorer tanpa batasan usia berhak mendapatkan kesempatan menjadi PNS,” katanya.

Termasuk dirinya yang kini sudah berusia 46 tahun, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk bisa menjadi PNS jika aturan tersebut tidak diubah. Padahal guru honorer di SMAN 3 Tasikmalaya ini sudah mengabdi sejak tahun 1992. “Kalau dihitung, sudah 26 tahun saya ngajar,” jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah sedang mengevaluasi mekanisme perekrutan guru secara nasional. Guru honorer yang ingin menjadi PNS tetap harus mengikuti tes untuk menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan setiap tahun tak kurang 50 ribu guru pensiun. Maka, perlu ada guru pengganti yang menempati posisi guru yang telah pensiun tersebut. Berkaitan dengan itu pemerintah memastikan tahun ini bakal ada rekrutmen guru baik dari honorer maupun guru baru.

”Tentu kita akan merekrut guru baru. Baik itu yang sekarang ini bekerja sebagai guru honorer selama memenuhi syarat. Dan juga guru yang baru, jadi semuanya akan dikelola dengan baik lewat tes,” ujar JK di kantor Wakil presiden, Selasa (3/4).

Dia menegaskan bahwa meskipun guru tersebut telah mengajar tapi tetap akan ada tes untuk mengetahui kapasitas guru. Hal itu berkaitan erat dengan peningkatan kualitas dan mutu pendidikan. ”Jadi ya perlu mencari calon guru yang betul-betul mempunyai kemampuan,” tegas dia. (dik/rga/jpg)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.