ICW: Isu Taliban dan Radikalisme di KPK Khayalan Belaka

25
0
KPK membantah isu taliban dan radikalisme di lembaga tersebut
Loading...

Dianggap Pengalihan Isu

Penanganan Kasus Bansos dll

JAKARTA – Di tengah penanganan kasus korupsi Bansos dan kasus korupsi besar lainnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali diserang dengan isu “taliban” dan radikal personelnya.

Atas isu yang santer menyebar di media sosial tersebut, organisasi Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai kedua isu dinaikkan oleh beberapa kelompok untuk mengalihkan penanganan kasus korupsi besar yang sedang dilakukan lembaga anti rasuah tersebut.

“Kami menduga kelompok tersebut berupaya untuk mengalihkan isu utama bahwa KPK saat ini sedang menangani perkara besar, salah satunya skandal korupsi bantuan sosial, yang diduga melibatkan banyak politisi,” kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Selasa (26/1).

loading...

Kurnia menegaskan, isu taliban dan radikalisme yang menyerang lembaga antirasuah merupakan opini usang yang tidak lagi dipercaya publik.

“Isu itu sudah usang dan publik tidak lagi percaya. Sebab, sampai hari ini kesimpulan tersebut tidak pernah terbukti dan hanya sekadar khayalan belaka,” cetus Kurnia.

Bantahan soal adanya unsur “taliban” dan radiklalisme di tubuh KPK disampaikan Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron. “Selama satu tahun saya dan pimpinan KPK periode 2019–2023 memimpin KPK, kami pastikan tidak ada radikalisme dan taliban di KPK seperti yang disebutkan,” kata Ghufron lewat keterangan tertulisnya, Selasa (26/1).

Menurutnya, video yang kembali diramaikan adalah video lama dari kegiatan audiensi KPK tanggal 11-12 September 2019. Saat itu KPK menerima sejumlah perwakilan masyarakat antikorupsi seperti GAK dan akademisi serta perwakilan Pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa yg konsen dengan isu antikorupsi.

 

“KPK mencurigai diangkatnya isu tersebut adalah upaya pihak-pihak yang punya tujuan tertentu apa pun itu. Sebagai penegak hukum, kami pastikan bahwa KPK akan tetap bekerja pada koridor hukum,” kata Ghufron.

Dia memastikan, KPK akan selalu mengedepankan prinsip profesionalisme dan akuntabilitas dalam penanganan perkara. “Kami selalu terbuka atas kritik dan mengajak masyarakat untuk mengawal setiap prosesnya,” pungkasnya.

Sehari sebelumnya, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata juga membantah adanya isu radikalisme hingga taliban di internal KPK. Pimpinan KPK dua periode ini menyatakan, satu-satunya militansi yang dimiliki para pegawai KPK adalah untuk memberantas korupsi.

“Kalau Taliban dalam artian militan melakukan pemberantasan korupsi mungkin iya. Kalau Taliban yang lain adanya itu di Afghanistan,” kata Alex di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan

Alex menegaskan, isu radikalisme dan taliban merupakan isu lama yang digaungkan untuk menggembosi kinerja KPK. Secara kelembagaan KPK memastikan isu itu tidak berdasar dan telah berulang kali diklarifikasi.

“Isu radikal dan taliban ini isu yang sudah lama dan kita pastikan, kita tegaskan enggak ada itu di KPK unsur radikalisme atau Taliban,” ujar Alex.

Tak berbeda jauh dengan ICW dan dua pimpinan KPK, mantan juru bicara lembaga tersebut, Febri Diansyah juga mempunyai pandangan bahwa isu “taliban” sengaja kembali dimunculkan lantaran lembaga antirasuah itu sedang mendalami kasus korupsi bansos.

“Isu Taliban dengan video tahun 2019 sebelum demo mahasiswa dimunculkan lagi. Berbarengan dengan mulai menghangatnya penanganan kasus korupsi Bansos Covid-19,” kata Febri seperti dikutip dalam akun Twitter miliknya, Senin (25/1).

Dia menertawakan oknum yang “menjual” isu taliban di dalam tubuh KPK. Dia menduga isu taliban ini selanjutnya akan digunakan untuk menyerang penyidik senior KPK, Novel Baswedan dan kawan-kawannya.

“Dan mungkin dikaitkan dengan penyidik-penyidik yang sedang menangani kasus korupsi besar. Misalnya, kasus korupsi benur atau pun korupsi Bansos Covid-19 yang sedang ditangani KPK,” katanya (jp/red).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.