Idap HIV, 3 Bocah Yatim Piatu ini Dilarang Bersekolah

14

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SAMOSIR – Malang betul nasib tiga bocah yatim piatu ini. Mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV), keberadaannya tidak diinginkan masyarakat. Mereka dilarang bersekolah, dan terancam terusir dari Kabupaten Samosir.

Ketiga anak yatim piatu tersebut saat ini ditampung Komite AIDS Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Seorang diantaranya masih bersekolah di PAUD Welipa dan dua orang lainnya bersekolah di SD Negeri 2 Nainggolan.

Sekretaris Eksekutif Komite AIDS HKBP, Berlina Sibagariang mengatakan, sejumlah warga Desa Nainggolan khawatir dan cemas, bahwa kehadiran ketiga bocah tersebut dapat menularkan penyakit pada anak-anak mereka.

Mereka tidak setuju ketiga anak pengidap HIV itu disatukan dengan anak sekolah umumya.

“Masyarakat berharap anak-anak tidak di situ. Karena ketiganya tidak berasal dari situ, dan juga masyarakat takut akan menularkan ke anak-anak mereka. Kita ingin adik-adik kita itu memperoleh haknya. Anak-anak ini punya hak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan,” kata Berlina, seperti dilansir Kantor Berita RMOLSumut, Minggu (21/10).

Dikatakan Berlina, pihaknya juga mendapat ultimatum dari masyarakat bahwa ketiga anak itu harus meninggalkan Kabupaten Samosir paling lamban tanggal 25 Oktober 2018.

Komite AIDS HKBP saat ini masih melakukan mediasi dengan pemerintah dan masyarakat agar hal itu tidak terjadi.

“Ada surat yang datang ke kita. Alasan mereka menolak anak-anak karena kita juga belum dapat izin dari pemerintah. Padahal itu kan punya HKBP dan mereka berhak tinggal di sana. Karena itu rumah HKBP,” ungkapnya.

Mediasi juga telah dilakukan pihak Komite AIDS HKBP, dengan Komite Sekolah SD N 2 Nainggolan, masyarakat desa, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir.

Hasil mediasi itu menyarankan agar ketiga bocah tersebut dipindahkan dari sekolah yang ada di Nainggolan dan menjalani homeschoolling.

Namun, Komite AIDS HKBP menolak saran tersebut karena homeschoolling justru akan membuat ketiganya semakin merasa terisolasi.

Bahkan menurut Berlina, pemkab juga meminta agar ketiganya pindah dari Desa Nainggolan, dan membuka hutan untuk anak-anak terpapar HIV serta tinggal di sana.

“Pertemuan terakhir dengan Pemkab Samosir, dan hasil pembicaraan mereka menyarankan homeschoolling. Tapi mengarahkan anak-anak dipindahkan saja dari tempat itu. Mereka bilang kenapa harus di Samosir. Kenapa bukan di tempat yang lain,” ujar dia.

Berlina menambahkan, anak-anak malang itu butuh bersosialisasi. Dia bisa berkembang ketika mereka bermain sama teman-teman sebaya.

“Ketika dia dibuat di homeschooling mereka nanti semakin merasa terisolasi. Mereka akan merasa bahwa tidak punya teman dan itu akan membuat anak-anak terpuruk,” pungkasnya. [yls/rmol]

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.