Ide Rizal Lahir dari Sekolah Anak, Gagasan Lendo Muncul di Penjara

140
0
hendra eka-hilmi setiawan-dokumen gerakan sekolah menyenangkan BIAR MURID BETAH. Foto kanan, kegiatan belajar di SD Minomartani I, Sleman, yang menjadi binaan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Lendo Novo (foto kiri), penggagas sekolah alam dan Muhammad Nur Rizal, penggerak GSM.

Mereka yang Berusaha Menjadikan Sekolah sebagai Taman (1)

Gerakan Sekolah Menyenangkan Muhammad Nur Rizal menekankan pada perubahan pola pikir guru. Adapun sekolah alam Lendo Novo yang kini berkembang luas mengeliminasi faktor-faktor yang membuat sekolah jadi mahal.

M HILMI SETIAWAN, Tangerang Selatan

MUHAMMAD Nur Rizal kaget ketika suatu hari sang anak, Aliya Zahra, tak mau pulang dari sekolah. Padahal, jam belajar telah selesai.
”Ternyata setelah saya perhatikan, sekolah seperti ini yang diinginkan Ki Hadjar Dewantara. Sekolah yang menyenangkan,” katanya ketika ditemui setelah memberikan pelatihan kepada guru-guru se-Tangerang Selatan di Serpong (22/11).
Sekolah tersebut berada di Melbourne, Australia. Saat itu suami Novi Chandra tersebut memang tengah berkuliah di Monash University.
Pengalaman bersama Aliya itulah yang lantas mendorong Rizal bersama sang istri untuk menelurkan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Didasari semangat untuk mengembalikan hakikat sekolah seperti yang digagas Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara dulu.
Yakni, Taman Siswa. Sekolah sebagai taman. ”Layaknya taman, sekolah harus membuat anak didik betah di dalamnya,” kata Rizal.
Akhirnya, pada periode 2014–2015 dia menyusun buku tentang sekolah menye­nang­kan. Dia sebar buku itu ke kampus-kampus. Khususnya kampus yang memiliki fakultas keguruan. Salah satunya Universitas Ahmad Dahlan yang sebelumnya bernama IKIP Muhammadiyah Jogjakarta.
Gagasan menghadirkan sekolah menyenangkan ala pasangan Rizal dan Novi itu ternyata mendapatkan sambutan luar biasa. Pada 2016 GSM mendampingi 30 sekolah model yang tersebar di Sleman, Jogjakarta, Gunungkidul, Kulon Progo, Semarang, Temanggung, Salatiga dan Rembang.
Tahun ini GSM semakin luas. Dari 30 sekolah binaan yang hampir seluruhnya sekolah negeri itu, terus meluas ke ratusan sekolah lainnya. ”Kami gunakan istilah mengimbas,” jelasnya.
Diantaranya, mengimbas ke 40 SD di Sleman, 40 SD dan 65 SMP di Kulon Progo, 90 madrasah diniyah di Gunungkidul dan diadopsi Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna serta Dinas Pendidikan Kota Pontianak. Saat ini GSM juga mulai merangsek ke ibu kota negara melalui Kota Tangerang Selatan.
Dalam praktiknya, GSM menekankan proses pembelajaran di sekolah harus nir kekerasan. Juga, harus ada interaksi yang baik dan hangat antara murid dan guru. Guru harus bisa menjadi sosok yang memotivasi dan teladan bagi siswa.
Upaya teknisnya bisa dilakukan dengan menata ulang meja dan kursi di kelas. Meja dan kursi tidak lagi disusun secara konvensional menghadap ke guru. Sebab, itu mencerminkan guru adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
Dalam praktik GSM, di kelas ada siswa yang duduk di lantai. Ada yang di kursi. Tetapi, posisi kursi ditempatkan di pinggir kelas.
Kunci penerapan GSM, menurut Rizal, memang ada di guru. ”Guru harus mengubah pola pikirnya,” tuturnya.
Dia menjelaskan, guru tidak boleh merasa sebagai sumber ilmu. Jika masih berpikir begitu, guru akan ditinggalkan. ”Sebab, sumber ilmu saat ini ada di mbah Google,” jelasnya, lantas tertawa.
Untuk mewujudkan sekolah yang menyenangkan, guru harus bisa menjadi fasilitator anak-anak mencari ilmu dan menggali potensinya. Selain itu, guru harus bisa menjadi motivator anak-anak. Sayang, dia mengaku jarang menemukan sosok guru yang mendampingi siswa ketika tengah mengalami kesulitan belajar.
Menghadirkan sekolah yang menyenangkan tentu bisa diwujudkan dalam beragam bentuk. Salah satunya melalui sekolah alam yang kini telah banyak dijumpai di berbagai tempat.
Tapi, siapa sangka kalau ide itu lahir saat sang penggagas, Lendo Novo, dipenjara. Ketika itu, di pengujung 1980-an, Lendo dibui bersama aktivis lain, salah satunya Fadjroel Rahman. Gara-garanya, dia menentang atau memprotes kedatangan Menteri Rudini di kampus ITB.
Nah, ketika berada di dalam penjara, seorang penyidik menegurnya. ”Kamu baru S-2 saja sudah berani lawan pemerintah,” kenang Lendo menirukan teguran seorang penyidik saat itu.
Pria kelahiran Jakarta, 6 November 1964, tersebut menjawab lantang teguran itu, ”Saya lebih menghormati tukang becak yang saleh dari­pada menteri yang korup.”
Dari perenungannya dari balik jeruji, dia tersadar bahwa ternyata ada konsep nilai-nilai yang salah di Indonesia. Nilai-nilai yang salah itu adalah menganggap kalau tidak jadi pejabat tidak hebat. Kalau tidak kaya tidak hebat. Bahkan, kalau tidak ganteng atau cantik tidak hebat pula.
Akhirnya dia putuskan untuk meluruskan nilai yang keliru tersebut dari pendidikan atau sekolah.
Setelah bebas dari penjara pada 1989, suami Yusri itu kemudian mendirikan TK Salman. TK tersebut menyatukan iman, takwa dan intelektualitas.
Dalam perkembangannya, konsep itu menginspirasi terbentuknya SD Islam Terpadu, SMP Islam Terpadu dan SMA Islam Terpadu sampai saat ini. ”Ternyata ajaran Alquran menyebutkan yang hebat itu orang yang bertakwa dan bermanfaat. Bukan miliarder atau pejabat,” jelasnya. (*/c10/ttg/bersambung)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.