Ikut Nyaleg Harus Bermodal

86

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Seseorang yang ingin menjadi calon anggota legislatif di Pemilu 2019  dipastikan harus memiliki modal. Bukan hanya sekadar modal berbentuk finansial, tetapi juga yang bersifat imaterial pun tidak bisa dikesampingkan.

Politisi senior Partai Golkar Kota Tasikmalaya H Nurul Awalin MSi mengatakan berdasarkan pengalamannya sebagai wakil rakyat, keberhasilan menjadi legislator selama tiga periode berturut-turut sejak tahun 2004 tidak diraih dengan cara mudah. “Politik itu membutuhkan nurani, kejujuran, dan tampil apa adanya,” ungkapnya kepada Radar, Rabu (4/4).

Sebab pada dasarnya, kata dia, sebagai legislator harus mampu berjuang untuk mengemban amanat rakyat. Sehingga ketiga prinsip diatas tersebut harus dipegang teguh dalam melakukan sosialisasi dan kampanye. “Jangan sampai bacaleg tampil secara berlebihan di luar karakter keseharian. Sewajarnya saja sesuai dengan kemampuan kita, tidak perlu sampai mengada-ada,” tuturnya.

Disinggung soal keperluan modal finansial? Nurul mengakui hal itu sangat diperlukan untuk keperluan dana kampanye. Akan tetapi besarnya modal kekayaan tidak menjamin bacaleg bisa terpilih. “Jangan karena mentang-mentang modalnya berlipat-lipat sudah merasa yakin menang, itu sudah masuk takabur. Dan politik itu tidak matematis, ” terang Nurul yang kini menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya.

Hal sama juga diakui politisi senior PPP Kota Tasikmalaya H Enjang Bilawini yang sudah malang melintang di dunia legislator sejak tahun 2004. Menurutnya modal materil bukan sebuah jaminan keberhasilan dalam Pileg. “Karena APK (Alat Peraga Kampanye) itu kan tidak didanai negara atau pun partai,” terangnya.

Menurutnya, yang terpenting seorang bacaleg untuk bisa berhasil dalam pemilihan yakni memiliki niat kuat dan strategi politik yang baik.

“Setelah itu barulah berpikir amunisi berupa modal dana untuk kampanye. Bacaleg juga harus mau kerja keras dengan melakukan konsolidasi sana-sini,” katanya.

Selain strategi dan permodalan, baik H Nurul maupun H Enjang menilai bahwa doa baik dari diri sendiri maupun orang sekitar tidak boleh dilupakan. Karena bagaimana pun segala hal tetap kembali kepada takdir yang maha kuasa. (rga)

loading...