Imigrasi Pantau 296 WNA

25
Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya BEKERJA. Kasi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Agustinus Wahyudi Indaryono bekerja di ruangannya.

LETNAN HARUN – Warga negara asing (WNA) yang tinggal di wilayah Priangan Timur (Priatim) saat ini mencapai 296 orang. Pada 2018, ada empat WNA yang dideportasi karena overstay dan menyalahgunakan izin tinggal.

Adapun dari 296 WNA itu sebanyak 108 orang tinggal di Garut, 66 orang di Pangandaran, 46 orang di Kabupaten Tasikmalaya, 38 orang di Kota Tasikmalaya dan delapan orang di Kota Banjar. Izin tinggal mereka berlaku variatif. Ada yang habis tahun ini, ada juga yang sampai 2022.

Kasi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Tasikmalaya Agustinus Wahyudi Indaryono mengatakan tujuan mereka datang bermacam-macam. Mayoritasnya tinggal sementara untuk berwisata. “Ada juga yang kerja, kunjungan keluarga, tapi mayoritas berwisata,” ungkapnya kepada Radar, Jumat (11/1).

Soal WNA yang menikah dengan warga pribumi, Wahyudi tidak memungkirinya. Namun, pihaknya tidak bisa melarang selama prosesnya ditempuh secara prosedural. “Kebanyakan mereka datang bukan untuk menikah, tapi pas datang ke sini mereka menemukan orang yang cocok,” terangnya.

Selama 2018, ada empat WNA yang dideportasi ke negara asalnya karena melanggar. Tiga WNA tinggal melebihi izin yang diberikan sedangkan satu lagi menyalahgunakan izin tinggal. “Jadi izinnya sebagai wisatawan, tapi dia malah bekerja,” katanya.

Selain dari WNA yang tercatat, tidak menutup kemungkinan ada warga asing lainnya. Pasalnya, ada yang dinamakan Bebas Visa Kunjungan Sementara (BVKS) di mana wisatawan asing bisa berwisata ke berbagai tempat tanpa menggunakan visa selama 30 hari. Hal itu sebagaimana Perpres Nomor 21 Tahun 2016. “Setelah 30 hari ya harus pulang lagi ke negara asalnya,” terangnya.

Data mereka tercatat di Kantor Imigrasi Pusat. Untuk pengawasan di daerah, pihaknya mengandalkan Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) serta kontribusi laporan masyarakat. Maka dari itu, pengelola hotel, penginapan, kontrakan atau pun tempat indekos diharapkan melapor ketika kedatangan WNA. “Kalau tidak dibantu masyarakat, ya sulit,” kata dia. (rga)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.