Kerjasama Implementasi Revolusi Industri 4.0

Indonesia dan Singapura Teken MoU

14

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Indonesia dan Singapura menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerjasama strategis bilateral implementasi industri 4.0. Kerjasama ini ditandatangani oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara dan CEO Enterpeise Singapore Png Cheong Boon.

“Revolusi industri 4.0 ini menjadi sangat penting untuk segera diadopsi, karena akan menjadi lompatan besar di sektor industri manufaktur nasional,” kata Ngakan di Nusa Dua Bali Kamis (11/10).

Ngakan mengatakan, MoU tersebut berisi tiga komitmen kerjasama Indonesia dan Singapura. Antara lain, menghubungkan industri Indonesia dengan penyedia teknologi Singapura, mengeksplorasi inisiatif untuk mendorong adopsi solusi inovasi manufaktur antar industri, dan pengembangan kurikulum pelatihan terkait Industri 4.0 untuk industri Indonesia.

“Kerja sama itu termasuk di dalamnya fasilitasi pertukaran antar lembaga mengenai rancangan atau implementasi fasilitas inovasi manufaktur kepada industri Indonesia dan pengembangan platform inovasi yang akan menjadi jembatan digital bagi produsen Indonesia dalam mengakses solusi industri 4.0,” papar Ngakan.

MoU tersebut juga mendukung penerapan Making Indonesia 4.0 guna memacu lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektonika.

Perjanjian kerja sama ini mulai berlaku sejak tanggal ditandangani sampai dua tahun dan dapat diperpanjang kembali dalam periode waktu yang sama.

Ngakan optimistis, Making Indonesia 4.0 yang telah dijadikan agenda nasional akan mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 1-2 persen per tahun.

Sehingga, pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5 persen menjadi 6-7 persen selama tahun 2018-2030. Selain itu, rasio ekspor netto juga akan meningkat kembali sebesar 10 persen terhadap PDB.

“Aspirasi besar yang ditetapkan yakni menjadikan Indonesia masuk pada jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Maka dari itu, kuncinya adalah menyiapkan kompetensi SDM dan infrastruktur digital,” imbuhnya.

Ngakan menegaskan, di era digital saat ini, industri manufaktur perlu memanfaatkan teknologi otomatisasi yang tinggi dengan ditopang infrastruktur berbasis internet.

Proses ini tidak hanya berlaku di dalam kegiatan produksi saja, melainkan juga di seluruh rantai nilainya sehingga terjadi alur yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi, optimalisasi, dan mutu produk.

Sementara itu, Png Cheong Boon menyampaikan, pihaknya berkomitmen ikut berkontribusi membangun kemampuan inovasi sektor industri di Indonesia.

“Kami adalah lembaga pemerintah yang mendukung pengembangan usaha. Kami juga mendukung pertumbuhan Singapura sebagai pusat perdagangan global dan startup,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyambut baik adanya upaya peningkatan kerja sama Indonesia dan Singapura, termasuk langkah sinergi yang dilakukan Kemenperin dan Enterprise Singapore.

Apalagi, selama 50 tahun ini, hubungan bilateral telah terjalin dengan baik terutama melalui kolaborasi peningkatan nilai perdagangan dan investasi.

“Peningkatan kerja sama RI-Singapura diyakini dapat saling menguntungkan dan melengkapi sehingga mampu memperkuat perekonomian kedua negara,” ujarnya. (riz/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.