Inflasi 0,14 Persen Masih Terkendali

13
0

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi di bulan November 2019 sebesar 0,14 persen. Inflasi November naik tipis dibanding bulan Oktober 2019 yang sebesar 0,02 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, inflasi terjadi di 82 kota Indeks Harga Konsumen selama bulan November 2019.

“Maka, Inflasi tahun kalender Januari-November menjadi 2,37 persen. Sedangkan secara tahunan year on year (yoy) adalah 3 persen,” ujarnya di Jakarta Senin (1/12).

Dia menyebutkan, dari 82 kota, terjadi inflasi di 57 kota, sementara 25 kota lainnya masih deflasi. Adapun inflasi tertinggi di Manado, deflasi tertinggi di Tanjung Pandang dengan -1,06 persen karena ada penurunan tarif angkutan udara dan penurunan harga beberapa komoditas ikan.

Penyumbang inflasi tertinggi dari bahan pangan. Dengan rincian, kenaikan bawang merah 0,07 persen, tomat sayur 0,05 persen, daging ayam ras 0,03 persen dan telur ayam ras 0,01 persen.


Inflasi juga disumbang dari beberapa komoditas sayuran dan buah-buahan dengan cukup tipis 0,01 persen. Sementara makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau inflasinya 0,25 persen dengan andil 0,04 persen.

“Rokok di level konsumen sudah mulai naik, bulan lalu juga sudah menyumbang. Jadi sebetulnya sudah naik pelan-pelan beberapa bulan terakhir,” katanya.

Perumahan air listrik dan gas juga menyumbang inflasi 0,12 persen, andilnya 0,03 persen. Sedangkan untuk sandang inflasi sebesar 0,03 persen.

Sementara itu, deflasi disumbang oleh cabai merah 0,08 persen, ikan segar dan cabai rawit dengan masing-masing 0,02 persen. Untuk kelompok transportasi dengan deflasi sebesar 0,07 persen dengan andil 0,01 persen.

“Turunnya tarif angkutan udara andilnya 0,02 persen karena bukan peak season, penurunan harga terjadi di 32 IHK. Jadi itu yang menyebabkan kelompok ini deflasi,” tuturnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai inflasi sebesar 0,14 persen masih terkendali. Namun dia memperkirakan, laju inflasi akan naik lagi di bulan Desember 2019.

“Potensi kenaikan di bulan November ini disumbang terutama dari bahan pangan pokok dan sayuran yang merangkak naik harganya akhir-akhir ini,” ujar Huda. (din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.