Inflasi Tasik Masih Terkendali

16

TASIK – Inflasi Kota Tasikmalaya pada Februari 2019 tetap terjaga dan terkendali. Secara tahunan tercatat 1,38% (yoy) lebih rendah dari historis rata-rata Februari selama 3 tahun sebelumnya sebesar 2,87 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Barat dan nasional.

Secara bulanan, Kota Tasikmalaya mengalami deflasi -0,11% (mtm). Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,41% dan rata-rata Februari selama 3 tahun sebelumnya sebesar 0,07%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Heru Saptaji mengatakan terjaganya inflasi pada bulan Februari 2019 didukung oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan, terutama komoditas telur dan daging ayam ras.

Selain itu, terjadi penurunan harga bensin dan solar sehubungan dengan pemerintah kembali menurunkan harga BBM bersubsidi pada 10 Februari 2019.

“Namun di sisi lain, masih terjadi inflasi terutama berasal dari kenaikan upah tukang bukan mandor. Di mana hal ini diperkirakan dipengaruhi penyesuaian terhadap kenaikan upah minimum kota (UMK) serta masih banyak berjalannya proyek-proyek pembangunan multiyears pemerintah,” katanya.

Selain itu, terjadi pula kenaikan pada beberapa komoditas bahan makanan terutama beras yang diperkirakan disebabkan oleh menipisnya persediaan sehubungan dengan panen raya baru akan dilakukan pada Maret. Serta meningkatnya jeruk saat perayaan hari besar imlek. “Di samping itu biaya rekreasi juga terpantau mengalami peningkatan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan inflasi sepanjang tahun 2019, khususnya dari kelompok bahan makanan terutama telur ayam ras, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tengah mempersiapkan pengembangan klaster ayam petelur ramah lingkungan dengan memanfaatkan inovasi teknologi MA 11.

Dalam jangka pendek, sambungnya, TPID juga telah merintis konektivitas peternak telur di Kabupaten Blitar. Hal ini untuk memperkuat ketahanan stabilitas harga telur ayam ras di Priangan Timur.

Heru mengajak masyarakat untuk turut menjaga pergerakan harga di pasar. Hal tersebut dapat dilakukan antara lain dengan melakukan variasi konsumsi. “Pilih beragam jenis makanan yang berganti-ganti supaya tidak terjadi penumpukan permintaan pada beberapa jenis komoditas tertentu,” ujarnya. (rls/na)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.