Inflasi Tasik Terendah di Jawa-Bali

121
0

TASIK – Pada bulan Desember 2019, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tasikmalaya mengalami inflasi 0,33% (mtm). Di tingkat provinsi, inflasi Jawa Barat tercatat 0,35% (mtm), dan inflasi Nasional tercatat 0,34% (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, maka inflasi Kota Tasikmalaya secara keseluruhan tahun 2019 (yoy) tercatat 1,72%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2,30% (yoy) dan terendah dalam 10 tahun terakhir. Pencapaian tersebut juga terendah di Jawa-Bali.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya Heru Saptaji mengatakan, inflasi bulan Desember di Kota Tasikmalaya terutama berasal dari kelompok bahan makanan sehubungan dengan kenaikan pola konsumsi rumah tangga pada akhir tahun.

“Sama dengan kondisi nasional, komoditas penyumbang utama inflasi adalah telur ayam ras sehubungan dengan permintaan yang meningkat sementara pasokan relatif menurun karena penurunan produktivitas ayam petelur pada musim hujan,” jelasnya.

Selain itu harga beras dan bawang merah juga meningkat sehubungan dengan musim tanam. Di luar kelompok bahan makanan, kenaikan harga terutama terjadi pada angkutan antar kota karena meningkatnya permintaan pada periode libur natal dan tahun baru.

Di sisi lain, tekanan kenaikan harga masih tertahan oleh normalisasi harga aneka cabai (terutama cabai merah dan cabai hijau) yang didukung oleh tercukupinya pasokan di pasar, serta harga pir dan alpukat yang menurun.

“Komoditas daging ayam ras juga mengalami penurunan harga yang didukung oleh tercukupinya pasokan di daerah maupun secara nasional,” katanya.

Secara tahunan, dibandingkan dengan akhir tahun 2018, kenaikan harga yang signifikan pada tahun 2019 terutama terjadi pada emas perhiasan seiring dengan tren kenaikan harga emas dunia. Dari kelompok bahan makanan, kenaikan harga terjadi pada bawang merah, jeruk, dan ketimun.

Sementara penahan inflasi terutama berasal dari harga bensin dan tarif listrik yang relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu harga daging dan telur ayam ras serta aneka sayuran wortel, kol atau kubis, dan kangkung juga terjaga lebih rendah.

“Mencermati perkembangan inflasi terkini dan beberapa indikator harga, diperkirakan pada bulan Januari 2020 akan terjadi inflasi,” katanya.

Sesuai pola historisnya, tekanan inflasi akan meningkat pada awal tahun karena penyesuaian harga berbagai komoditas dan tarif. Pada kelompok bahan makanan, risiko tekanan inflasi yang cukup tinggi berasal dari  beras yang masih dalam masa tanam.

Selain itu, dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, kenaikan cukai rokok sebesar 23% berisiko mendorong kenaikan harga aneka rokok.

“Namun, tekanan harga diperkirakan masih dapat tertahan oleh terjaganya harga bahan pangan utama lainnya seperti daging dan telur ayam ras, serta cabai dan hortikultura lainnya. Harga BBM dan tarif listrik yang masih stabil juga dapat menjadi penahan inflasi,” katanya. (rls)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.