Ingin Hidup Bebas, Tak Kapok Dirazia

2758
0
KENA RAZIA. Anak-anak punk yang dirazia dari Alun-Alun Kawali dimintai keterangan oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Ciamis, Jumat (21/6). IMAN S RAHMAN/ RADAR TASIKMALAYA

KAWALI – Polsek Kawali berhasil mengamankan 14 anak punk terdiri dari 10 laki-laki dan empat perempuan di kawasan alun-alun dan terminal Kecamatan Kawali, Jumat (21/6) sekitar pukul 09.00. Dari 14 anak punk itu, 12 orang di antaranya adalah warga Ciamis, sisanya berasal dari Majalengka.

Kasubag Humas Polres Ciamis Iptu H Iis Yeni Idaningsih menerangkan, 14 anak punk yang dirazia itu diserahkan ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial (Dinsos) untuk dibina. Razia tersebut sebagai upaya untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan. “Hal tersebut (pergaulan anak punk jalanan, Red.) termasuk ke dalam penyakit masyarakat. Semoga mereka juga tidak kembali lagi ke jalan dan tidak meresahkan masyarakat,” tutur dia kepada Radar di kantornya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Satpol PP Kabupaten Ciamis Dedi Iwa Saputra menyebutkan, setelah didata ulang, ke-14 orang yang diamankan itu memang anak punk. Pihaknya menyerahkan mereka ke Dinas Sosial untuk dibina dan diserahkan ke orang tuanya. “Supaya mereka dibawa ke rumah masing-masing,” ujar Dedi.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ciamis Hj Yeyet Trisnayati menjelaskan, 14 anak punk itu belum pernah masuk data base Dinsos. Mereka semua adalah komplotan pengamen. Sebanyak 12 orang di antaranya merupakan warga Kabupaten Ciamis dari kecamatan yang berbeda, yakni Kecamatan Kawali, Lumbung, Rajadesa, Rancah dan Sukadana. Sedangkan dua orang lagi berasal dari Majalengka.

“Lebih miris lagi ter­­nyata dari 14 orang itu ada satu orang pelajar masih MTs. Ter­nyata kami ke­ta­hui mereka ini karena salah per­gaulan dan kor­­ban broken home juga,” kata dia.

Pihaknya sudah memberikan peringatan melalui surat pernyataan tertulis berupa komitmen tidak lagi turun ke jalan. Selain itu, orang tua mereka juga dihadirkan. Orang tua harus mengetahui keadaan anaknya yang sebenarnya dan membina anaknya secara langsung. “Lebih baiknya diberikan pemahaman agama yang lebih mendasar agar menjadi fondasi diri bahwa melakukan hal itu tidaklah baik,” katanya.

H Eman, orang tua salah seorang anak punk yang diamankan, TI (15), tidak menyangka anaknya terjaring razia polisi di Alun-Alun Kawali. Padahal, pada pukul 10.00, dia sedang mengambil rapor TI di MTs. Ketika dicari di MTs saat itu memang anaknya tidak ada. Dia baru tahu anaknya diamankan petugas sekitar pukul 11.30.

“Saya benar-benar tidak menyangka anak saya ikutan anak punk. Mungkin terbawa-bawa orang lain. Padahal keseharian anak saya tidak apa-apa,” kata Eman saat berada di Dinas Sosial.

Eman bertekad untuk mengirimkan anak paling kecil dari dua bersaudara itu ke pondok pesantren (ponpes) agar mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik. “Saya akan lebih mengawasi anak saya jangan sampai ke jalan lagi,” ujar dia.

Anak punk asal Majalengka, GMP (15) menceritakan, bisa bergabung dengan anak punk Ciamis karena aktivitasnya sebagai pengamen. Dia sudah tiga tahun mengelilingi daerah yang berbeda. Dia melakukan hal tersebut dengan teman-temannya karena ingin terbebas dari kekangan orang tua. Bahkan, walaupun dia tidak punya uang, tetap bisa jalan-jalan sampai ke Solo menemui anak-anak punk lainnya. Untuk menempuh perjalanan jauh, biasanya dia naik truk yang melintas di jalan. Bila lapar ingin makan, dia cari uang dengan mengamen. “Sekarang saya ditangkap Polsek Kawali saat ngamen. Sekarang saya tidak akan lagi ngamen di jalan pak kapok,” ujar dia.

Anak punk lainnya, Ad (18) mengaku sudah enam tahun menjadi anak punk jalanan. Dia bisa bermain hingga Banten dan sudah pernah kena razia petugas di berbagai daerah. Dia tidak kapok-kapok kena razia karena ingin hidup bebas. Bermain-main sepuasnya. “Saya seperti ini belum dapat hidayah saja pak,” kata warga Ciamis ini. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.