Adul, Tamu Penting Presiden di Hari Disabilitas Internasional

Ingin Jadi Pemadam Kebakaran, untuk Menolong Orang

8
Ibu Pipin (Ibu Adul), dan Adul Foto Profile, Cibadak, Sukabumi, Faisal R Syam, (29/11). Photo: Faisal R Syam / FIN

Muklis Abdul Kholik (9) menjadi tamu penting dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional di Kota Bekasi, Senin (3/12) lalu. Presiden Joko Widodo tak segan menggendong bocah yang berjalan merangkak tiga kilometer menuju sekolahnya. Perjuang­an Adul patut jadi inspirasi.

KHANIF LUTFI, Sukabumi

Azan subuh baru selesai berkumandang. Suhu dingin masih menyelimuti Kecamatan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Suara gayung bersambut gemericik air terdengar dari kamar mandi. Kreek..suara pintu berdecit, Adul keluar dengan kedua tangannya.

Kedua kaki yang kurang sempurna membuatnya harus merangkak menuju kamarnya. Kedua tangannya menjadi pengganti kakinya untuk berjalan

Meski demikian, Adul bisa mengangkat kedua kakinya agar bisa berjalan menggunakan tangan.

Adul bukan tipikal anak manja. Mulai dari mandi sampai mengenakan seragam sekolah dikerjakannya sendiri. Tanpa bantuan ibunya. Termasuk mempersiapkan buku pelajaran sekolah.

Hari itu, Adul tengah bersiap menghadapi ujian semester pertama Kelas III SD Negeri 10 Cibadak, Kota Sukabumi. Anak ke empat dari pasangan Pipin (45) dan Dadan Hamdani (50). Lahir secara prematur, Adul ditakdirkan tidak memiliki kedua kaki sejak lahir.

Adul lahir di Kampung Cikiwultonggoh RT/RW 01/01, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dari desa tersebut, ia harus menempuh jarak sekira 3 kilometer agar sampai di sekolahnya dengan merangkak.

Untuk mencapai sekolahnya, bukan perkara mudah, Medan dari rumah Adul menuju sekolah termasuk terjal. Ia harus berjalan menuruni bukit sembari diawasi sang ibu dari belakang. Jalannya pun tidak semua aspal. Ada yang bertanah merah, ada pula berbatu.

Belum lagi ada jembatan dari bambu yang harus ia lewati. Begitupun sebaliknya, sepulang sekolah, Adul harus melalui jalan menanjak.

Ibunda Adul, Pipin mengaku ragu anaknya bisa bersekolah normal seperti ketiga kakaknya. Bukan tanpa alasan. Beberapa tetangga rumahnya menyarankan Adul bersekolah di sekolah luar biasa (SLB).

Bahkan, sebelum bersekolah di SDN 10 Cibadak, Pipin sempat bertanya kepada kepala sekolah. “Apakah anak saya bisa bersekolah di sini?,” kata Pipin sambil mengingat kejadian tiga tahun lalu.

Harapan Pipin kepada Adul cukup besar. Ia tidak mau anaknya jadi sulit di kemudian hari. Pipin juga takut, jika anaknya hanya bersekolah sampai SD akan susah mendapat pekerjaan nantinya.

“Mau manggul aja ngga bisa. Jadi memang harus sekolah yang tinggi biar kerjanya ngga jadi kuli. Tapi untuk bisa jadi sarjana butuh biaya yang besar,” kata Pipin kepada wartawan.

Pipin berharap ada bantuan beasiswa untuk anaknya bisa menempuh pendidikan lebih tinggi. Rasa ragu seketika sirna, saat kepala sekolah Epi Mulyadi secara spontan menjawab jika Adul bisa bersekolah. Dimata guru-gurunya Adul dikenal sebagai anak yang aktif dan penuh semangat.

Epi Mulyadi menuturkan di sekolah, Adul bukan anak introvert. Adul tak minder jika harus mengikuti pelajaran olah raga. Begitu juga di mata teman-temannya. Keinginan Adul untuk bersekolah lebih tinggi cukup kuat. ”Adul katanya mau sekolah sampai sarjana,” ujar Epi.

Wali Kelas III SDN 10 Cibadak Siti Khodijah bercerita. Dalam mengikuti pelajaran, Adul tak pernah menemui kesulitan berarti. Hanya saja Adul butuh perhatian lebih. Bukan diistimewakan, tetapi penyampaiannya. Paling tidak harus dilakukan dua kali agar anak-anak lebih mengerti.

Dikatakannya, Adul sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan Sunda. ”Cukup banyak cita-citanya. Seperti jadi presiden dokter, atlet panjat tebing bahkan sampai petugas pemadam kebakaran,” terangnya.

Senin (3/12), Adul menjadi tamu istimewa di acara Hari Disabilitas Internasional. Presiden Joko Widodo tanpa segan menggendongnya. Keduanya tertawa riang dan saling berswafoto bersama. Foto keduanya pun menghiasi laman Facebook Joko Widodo.

Mantan Wali Kota Solo ini pun bertanya cita cita Adul. Pertanyaan itu dijawab Adul dengan lantang, pemadam kebakaran. ”Kenapa pemadam kebakaran? “ tanya Jokowi. ”Untuk menolong orang,” jawab Adul. Dalam laman tulisan tersebut, Jokowi menulis sosok Adul, bocah kecil dari Sukabumi telah mengajarkan kepada kita bahwa tekad untuk maju, serta keinginan menjadi manusia yang bermanfaat tak berkurang sedikit pun oleh keterbatasan. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.