Innalillahi, Korban Dugaan Malpraktek RSDH Cianjur Meninggal

52

CIANJUR – Korban dugaan malprektek RS Dr Hafidz (RSDH) Kabupaten Cianjur, Fadilah Rawmawindani (15) warga Kampung Gunglanjung I, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, akhirnya meninggal dunia, Senin (3/12), setelah sempat dirawat di RSUD Cianjur.

Fadilah sebelumnya didiagnosa mengidap penyakit usus buntu, kemudian pihak RSDH melakukan tindakan operasi. Akan tetapi usai dioperasi, kondisi Fadilah tidak membaik hingga akhirnya meninggal dunia.

Ketua Himpunan Masyarakat untuk Kemanusaian dan Keadilan (Humanika) Kabupaten Cianjur, Beny Budiyanto memaparkan, pihaknya merasa prihatin dan ikut bela sungkawa atas meninggalnya Fadilah yang tidak lain merupakan kliennya dalam menuntut pertanggungjawaban pihak rumah sakit.

“Karena ditolak di RSDH kemudian dipindah ke RSUD Cianjur. Itu terakhir kabarnya dua hari sebelumnya mengalami pendarahan begitu banyak sekitar pukul 12:50 WIB, dan akhirnya meninggal,” katanya kepada Radar Cianjur.

Selaku kuasa hukum dan pendamping sosial kemanusian dari Humanika Kabupaten Cianjur, Beny akan terus menindaklanjuti kasus ini hingga tuntas.

“Kami yang diberi kuasa oleh pihak keluarga akan terus melakukan upaya hukum, sesuai Undang-undang (UU) berlaku. Intinya terus permasalahan ini harus selesai, artinya jangan sampai diabaikan. Khawatir terjadi pada para pasien lainnya,” ujar, Beny.

Ia menambahkan, selain itu laporan yang sudah dilakukan ke pihak kepolisian akan meminta tanggung jawab atas apa yang telah terjadi terhadap pasien dugaan malpraktek yang meninggal.

“Pihak RSDH harus bertanggungjawab atas wafatnya pasien yang diduga malpraktek. Seterusnya akan dilakukan otopsi oleh pihak RSUD dan juga kepolisian sesuai keinginan pihak keluarga,” terus, Beny.

Salah satu kuasa hukum pasien meninggal dari LBH Kongres Advokat Indonesi (KAI) Kabupaten Cianjur, Asep Sunanjar mengatakan, pada intinya selaku kuasa hukum dari pasien (almarhum) akan terus melakukan upaya untuk menegakkan hukum demi terwujudnya keadlian.

“Kami pun yakin pihak kepolisian tidak akan berdiam diri. Pasti pihak penegak hukum akan bekerja secara profesional, seperti apa yang telah kita laporkan sebelumnya pada tanggal 28 November 2018,” ujarnya.

Masih kata Asep, apalagi pasien dugaan malpraktek sudah meninggal dunia kepolisian pasti akan bergerak cepat untuk memanggil salah satu dokter RSDH (dr Randy Sabastian, red) dan pihak RSDH. Karena yang menangani pasien ini baru pulang dari Rumah Sakit (RS).

“Rencanya pihak keluarga akan memakamkan di Kampung Tugu RT 4/6, Desa Sukamaju. Tepatnya di perumahan Tugu Residence, kurang lebih jaraknya sekitar 100 meter dari rumah duka ayah dari pasien,” pungkasnya.

Sementara, salah satu kuasa hukum dari RS Dr Hafidz (RSDH) Kabupaten Cianjur, Aep Lukman Nulhakim mengatakan, tetap membantah apa yang dituding pihak keluarga pasien melalui kuasa hukumnya.

“Kami atas nama klien turut berduka cita juga sedalam-dalamnya atas meninggalnya pasien atas nama Fadilah. Tentunya mendoakan semoga almarhumah diterima seluruh amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Alloh SWT,” kata dia saat dihubungi langsung wartawan ini.

Aep menambahkan, menanggapi laporan polisi yang dilakukan ibu pasien akan bersikap kooperatif dalam menghadapi proses hukum dan akan mengikuti semua proses sebagaimana mestinya.

“Ya, tegasnya kita menolak dan membantah dengan apa yang dituduhkan,” pungkas, Lukman.

(radar cianjur/mat)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.