Insiden Di Mangunreja, Keponakan Jadi Pelampiasan Nafsu Hingga Hamil

1171
EKSPOSE. Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra SIK menunjukkan barang bukti kasus paman cabuli keponakannya di Mako Polres Tasikmalaya, Rabu (28/11).

MANGUNREJA – An (41), warga Desa Sukarasa Kecamatan Salawu tega menghamili keponakannya sendiri, Ris (15) hingga hamil dan melahirkan bayi laki-laki pada 19 November 2018. Aksi bejat pelaku ini sudah dilakukan sejak akhir tahun lalu.

An (41) mengaku melakukan aksinya terhadap keponakannya karena tergoda melihat kecantikan dan kemolekan tubuh korban. “Saya tergoda sama kecantikannya,” katanya kepada Radar, Rabu (28/11).

An pun mengakui melakukan aksi bejatnya dari tahun 2017 hingga Oktober 2018. “Saya melakukannya ketika istri tidak ada di rumah atau malam hari saat istri tidur,” ungkapnya.

Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra SIK mengatakan pelaku dan korban tinggal satu rumah. Korban bersama pelaku sudah sejak masih kecil, dia dititipkan orang tuanya yang tinggal dan bekerja di Bandung. “Modus yang dilakukan tersangka dengan mengancam korban tidak boleh berpacaran kalau tak mau diajak berhubungan,” ungkap Dony, kepada wartawan pada ekspose di Mako Polres Tasikmalaya, Rabu (28/11).

Dony menjelaskan Ris diketahui hamil oleh Ene, ketua RT tempat korban dan pelaku tinggal. Ene heran melihat perut korban seperti sedang hamil. Ene pun langsung melaporkan kecurigaannya kepada orang tua korban di Bandung. “Ene juga bersama kerabat korban membawa Ris diperiksa kandungan dan hasilnya positif hamil tujuh bulan pada September lalu,” jelasnya.

Diketahui hamil, lanjut Dony, korban awalnya enggan menyebutkan siapa yang melakukannya. Setelah bayinya lahir, korban buka suara kepada orang tua dan RT bahwa yang menghamilinya adalah pamannya sendiri. “Mengetahui hal tersebut, orang tua korban dan RT melapor ke Polres Tasikmalaya dan pelaku langsung ditangkap di rumahnya pada Selasa (20/11),” jelasnya.

Atas aksinya ini, lanjut dia, An dijerat pasal 81 ayat (3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal lima tahun maksimal 15 tahun. “Karena yang melakukannya pamannya maka pidananya ditambah satu pertiga dari ancaman pidana,” bebernya. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.