Integrasi Nilai Keisalaman Sebuah Alternatif

95

BEBERAPA waktu lalu, saya mendapat tugas dari dosen mata kuliah untuk melakukan observasi dan kunjungan ke sekolah dasar untuk mencari berbagai hal terkait dengan pendalaman tugas materi perkuliahan. Saya berkesempatan mengunjungi beberapa sekolah dasar di salah satu kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya. Dalam kesempatan itu, saya mencoba berdialog dengan beberapa guru terkait implementasi kurikulum 2013 (Kurtilas). Selain berbincang-bincang dengan para guru, saya pun mencoba menelaah buku tematik 2013 revisi 2016 (walaupun tidak begitu mendalam).

Dari apa yang saya lakukan, ada dua hal yang menarik perhatian saya sehingga saya membuat tulisan ini. Ketertarikan saya pada dua persoalan penting (menurut saya), antara lain pertama implementasi kurikulum 2013 ternyata belum merata di setiap sekolah dasar. Saat ini kurtilas baru diberlakukan di kelas II dan IV, padahal sudah memasuki tahun lebih kurang enam tahun. Dalam pelaksanaannya pun, sekolah dan guru masih dihadapkan pada berbagai persoalan mendasar (dukungan buku yang belum maksimal, media pembelajaran yang minimal, dan motivasi guru yang masih minim dan lain sebagainya).

Yang kedua, dari hasil telaah terhadap buku tematik yang menjadi pegangan guru dan siswa, saya tidak menemukan adanya keterkaitan antara materi yang disajikan dengan nilai-nilai keislaman. Yang ada hanya keterkaitan antara satu mata pelajaran yang bersifat umum. Itu pun belum pada semua mata pelajaran. Padahal buku itu diberi nama tematik.

Terkait dengan maraknya kekerasan dan merosotnya akhlak peserta didik yang sering diberita­kan, baik di media cetak maupun elektronik, saya memiliki “pandangan”, jangan-jangan salah satu penyebab rusaknya karakter dan akhlak peserta didik saat ini, ada kaitan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Dalam proses pembelajaran, ada banyak guru yang belum melakukan pengintegrasian nilai-nilai keislaman.

Guru matematika misalnya, ketika mengajarkan tentang bagaimana meng­hitung volume, lebih sering menggunakan contoh menghitung dalam contoh kubus. Mengapa tidak bergeser pada contoh masjid, musala, dan sejenisnya atau bentuk lain yang memiliki nilai keislaman. Dalam mengajarkan tentang puisi, guru bahasa Indo­nesia lebih sering mengambil contoh puisi dari buku atau puisi lain­nya yang tidak mengandung nilai-nilai keislaman.

Kenapa tidak anak disuruh mengambil contoh dari puisi-puisi yang mengandung nilai-nilai keislaman atau disuruh membuat puisi yang mengadung nilai kebesaran Allah. Itulah sesungguhnya integrasi nilai-nilai keislaman. Integrasi nilai-nilai keislaman adalah penggabungan (penyatuan) nilai-nilai keislaman pada seluruh materi dan mata pelajaran yang diajarkan.

Dengan semakin munculnya kekhawatiran dari semua pihak (guru- orang tua dan masyarakat) akan merosotnya akhlak peserta didik, saya optimis melalui pengintergrasian nilai-nilai keislaman dalam setiap materi dan mata pelajaran di sekolah, anak didik akan semakin dekat dengan nilai-nilai keislaman. Ketika anak sudah dekat dengan nilai-nilai keislaman, anak akan semakin termotivasi untuk mau dan mampu menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Yang pada akhirnya, insyaallah akan lahir generasi Indonesia yang semakin berkarakter dan berakhlak mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Wallahu a’lam. (*)

*Ketua Prodi PGMI Suryalaya dan mahasiswa S3 SPs UPI Bandung.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.