Kasus Pemalsuan Dokumen Kapal MVEngedi

Intelijen Kejagung Tangkap Buronan di Tasikmalaya

111

JAKARTA – Tim intelijen Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Negeri Batam berhasil menangkap Hamidah Asmara Intani, buronan kasus pemalsuan dokumen kapal MV Engedi eks Eagle Prestige.

“Penangkapan buronan dilakukan di Batamia Art Komplek Ruko Rajapolah Permai Nomor 15 Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu malam (5/12) sekitar pukul 20.00,” kata Direktur Teknologi Informasi dan Produksi Intelijen pada Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), Yunan Harjaka, di Kejaksaan Agung Jakarta, Kamis (6/12).

Dia menjelaskan penangkapan terpidana merujuk kepada putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru No.139/Pid.B/2014/PT.PBR tanggal 26 Februari 2015 setelah upaya kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA).

Dalam kasus pemalsuan surat atau dokumen kapal terpidana sebelumnya dijatuhi hukuman dua tahun enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Batam dalam perkara No.395/PID.B/2014/PN.BTM Tanggal 8 Oktober 2014.Terpidana Intan dianggap bersalah melanggar pasal 263 ayat (2) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau terbukti bersalah.

Dengan sengaja memakai surat yang dipalsukan, seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau pemakaian surat itu dapat mendatangkan kerugian.” tutupnya.

Diketahui, Kejaksaan Agung terus melakukan pemburuan para buronan berbagai tindak pidana, baik perkara korupsi dan perkara tindak pidana umum se- Indonesia. Sejak Januari 2018 hingga 1 Oktober 2018 sudah 172 buronan berhasil diamankan dari 395 buronan yang tengah diburu tim intel Kejaksaan RI.

Pemburuan dan penangkapan buronan melalui program Tabur 31.1 atau tangkap buronan di setiap Kejaksaan Tinggi se-Indonesia dikatakan sangat efektif, pasalnya 31 Kejati diwajibkan menangkap satu buronan setiap bulannya.

Pengamat Hukum Yusdianto Alam mengatakan prioritas Kejagung diharapkan juga mampu menyentuh pada hal-hal yang sudah kentara dan sudah menjari perhatian publik.

“Kita tunggu pekerjaan besar Kejagung dalam hal berani menyita sejumlah saham dan rekening atas nama Yayasan Supersemar. Terlebih penyitaan dilakukan setelah tim eksekutor mengambil Gedung Granadi milik Keluarga Cendana untuk disetorkan kepada Negara, ”papar Dosen Ilmu Hukum dan Tata Negara Universitas Lampung itu.

Jangan saja, sambung Yusdianto publik hanya mengetahui langkah-langkahnya saja sementara hasilnya belum juga terlihat. “Kita apresiasi apa pun bentuknya. Kita beri semangat, dan kita tunggu realisasinya,” pungkas Yusdianto.

Sebelumnya Jaksa Agung Muda bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, Loeke Larasati Agoestina mengatakan Kejaksaan Agung sebagai pemohon dalam perkara tersebut tengah menelusuri seluruh saham dan rekening milik atas nama Yayasan Supersemar untuk dimasukkan ke daftar aset yang harus disita tim eksekutor yaitu Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dia memastikan Kejaksaan Agung tidak akan berhenti memburu aset milik Yayasan Supersemar hingga mencapai Rp4,4 triliun untuk disetorkan ke negara. Sekarang itu total aset yang kami sita dari Yayasan Supersemar baru sekitar Rp 243 miliar. Kami tidak akan berhenti, akan kami kejar terus semua asetnya Yayasan Supersemar ini sesuai putusan hingga Rp4,4 triliun, tuturnya. (lan/fin/ful)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.