Dalam Satu Hari Mencapai Delapan Kali Pengiriman

Intensitas Pendistribusian Air Bersih Meningkat

31
0
SALURKAN. Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya membagikan air bersih di Setiawargi Kecamatan Tamansari bersama BPBD dan polsek, Senin (12/8).

TAWANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya mencatat, selama dua minggu dari tanggal 29 Juli sampai tanggal 11 Agustus 2019 telah mendistribusikan 280 tangki.

“Memang untuk dua minggu ini sampai delapan kali pengiriman air bersih dalam satu harinya,” kata Koordinator Pusdalop PB BPBD Kota Tasikmalaya Harisman kepada Radar, Senin (12/8).

Menurut dia, awalnya setiap harinya hanya empat hingga lima kali pengiriman air bersih. Saat ini rata-rata delapan kali pengiriman. Bahkan, pada Jumat (9/8) hingga 11 kali pengiriman. “Itu tersebar di sembilan kecamatan,” tutur dia.

Dengan intensitas pengiriman air hingga delapan kali sehari menandakan kebutuhan air mengalami peningkatan, karena air bersih sudah susah didapatkan. “Meski kami belum bisa menyatakan, kekeringan semakin parah atau tidaknya, karena harus ada evaluasi di awal musim hujan,” tutur dia.

Harisman menjelaskan, hingga tanggal 11 Agustus, BPBD sudah mengirimkan 40.00 liter air di Kecamatan Cipedes, 150.000 liter Purbaratu, 80.000 liter Cibeureum, 350.000 liter Tamansari, 175.000 liter Kawalu, 5.000 liter Tawang, 5.000 liter Cihideung, 5.000 liter Mangkubumi dan di Kecamatan Indihiang 20.000 liter. “Selama ini kita sudah mengirimkan 830.000 liter air yang sudah didistribusikan untuk kebutuhan air bersih,” kata dia.

Dengan itu, ia mencatat sampai saat ini sebanyak 6.487 kepala keluarga dengan 21.408 jiwa mengalami kekurangan. “Itu terdapat di 15 kelurahan yang terdampak,” kata dia.

Harisman mengimbau masyarakat menghemat air bersih untuk mengantisipasi kekurangan air karena musim hujan tidak sesuai prediksi. “Harapan kami masyarakat ini bisa menghemat air bersih,” ujar dia.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya H Ucu Anwar menerangkan, dalam penanggulangan krisis air, perlu ada peran serta masyarakat. Masyarakat harus mulai membiasakan membuat biopori supaya menjadi sarana resapan air. “Budaya menanam pohon juga harus diterapkan, khususnya pohon-pohon pengikat tanah dan penyimpan air seperti bambu, honje, picung dan pohon-pohon lainnya,” tutur dia usai mengisi acara di Ombus Mahasiswa Baru Unsil kemarin.

Selain itu, masyarakat juga harus lebih bijak dalam menggunakan air bersih. Lebih baik lagi jika bisa menabung air di tangki-tangki air menjelang kemarau tiba. “Dengan pola tersebut mungkin krisis air tetap terjadi, tapi tidak akan separah biasanya,” ujarnya.

Kemarin, Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya (PTT) mendistribusikan air ke wilayah Setiawargi Kecamatan Tamansari.

Koordinator kegiatan, Firmansyah Theja menyebutkan, hal tersebut sebagai bentuk kepedulian kelompoknya kepada warga yang membutuhkan. “Makanya kita komunikasi dengan BPBD juga polsek untuk menentukan di mana lokasi yang benar-benar membutuhkan,” tuturnya.

Diharapkan apa yang dilakukan PTT bisa meringankan beban masyarakat akan sulitnya mendapatkan air bersih. Ada dua tangki air bersih yang dibagikan kepada warga. Rencananya hal ini akan dilakukan secara kontinu. “Kita akan kirimkan bantuan lagi, bukan hanya kali ini saja,” kata dia. (ujg/rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.