Irfan; Pendidikan dan Kesehatan di Daerah Harus Skala Prioritas Pemprov!

16
KRITIK PEMPROV. Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) Irfan Suryanagara saat pembukaan Pra-Musrenbang Kewilayahan Provinsi Jabar di Braga Ballroom Hotel Crowne Plaza, Kota Bandung, Senin (18/3/2019).

BANDUNG – Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) Irfan Suryanagara mewanti-wanti bahwa perencanaan pembangunan daerah harus memperhatikan skala priotas. Menurutnya, saat ini percepatan di sektor pendidikan, dan kesehatan jauh lebih penting.

Irfan menyebut, kebutuhan infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Jabar saat ini masih mengalami kekurangan dan mengaharuskan masyarakat menyeberang ke daerah lain untuk mengakses fasilitas pendidikan.

“Saya ingin menitipkan pembangunan Cirebon dan Tasik itu harus demikian menarik. Supaya masyarakat di wilayah tersebut tidak usah berangkat ke luar daerah untuk mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan. Maka, di Cirebon dan Tasikmalaya harus ada universitas yang bagus, rumah sakit yang bagus dan tempat pelayanan masyarakat yang baik,” kata Irfan saat pembukaan pra-Musrenbang Kewilayahan Provinsi Jabar di Braga Ballroom Hotel Crowne Plaza, Kota Bandung, Senin (18/3/2019).

Selain di Tasikmalaya dan Cirebon, hal senada pun terjadi di Kota Depok. Irfan menyatakan saat ini di Kota Depok hanya terdapat 14 Sekolah Menengah Atas (SMA), jumlah belum sesuai dengan kebutuhan.

“Di Depok SMA hanya ada 14, seharusnya ada 25. Ini harus menjadi pemikiran kepala dinas pendidikan. Jangan hanya alokasi anggaran digunakan untuk alat peraga, edubox, harusnya sekolah dulu dibuat. Karena SMA kewenangannya ada di Pemerintah Provinsi,” katanya.

Akibat kurangnya jumlah sekolah mengah atas hal tersebut memaksa masyarakat Depok menyekolahkan anaknya ke Jakarta. “Akibat kekurangan ini, kasihan anak-anak di Depok harus menyeberang ke Jakarta,” ujarnya.

“Saya harapkan, pertama akses pendidikan yaitu SMA di Kota Depok harus segera diwujudkan selayak- layaknya,” tambah Irfan.

Selain itu Irfan pun mendorong, Pemprov Jabar untuk memperhatikan kondisi tugu batas. Karena keberadaannya kini -berdampak pada kesadaran masyarakat akan nilai-nilai kejawabaratan.

“Kami kemarin sudah melakukan agenda reses, ternyata ada masyarakat yang tidak tahu, bahwa daerahnya termasuk daerah Jabar. Mereka sangka (daerahnya) adalah Jakarta Timur. Padahal Depok, Bekasi, Bogor adalah penghasil PAD terbesar di Jabar,” katanya.

Lebih lanjut Irfan mengatakan, pembangunan tugu batas sudah direncanakan sejak dulu. Hal tersebut menurutnya bertujuan salah satunya untuk melahirkan rasa dan nilai-nilai ke-Jawa Barat-an kepada masyarakat.

“Kita sudah buat di beberapa tempat sehingga orang tahu untuk melihat Jawa Barat. Sehingga timbul rasa ke-Jawa Baratan-nya,” pungkasnya. (dg)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.