Irigasi 6 Desa di Cisayong Tasik Terganggu Material Longsoran

287
0

KABUPATEN TASIK – Bencana alam akibat hujan deras masih menghantui wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Sabtu (17/2) lalu sekitar pukul 03.00 WIB, bencana tanah longsor terjadi di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasik.

Tepatnya tanah longsor ini terjadi dari sebuah tebing di Kampung Dawuan Desa Santanamekar.

Material longsoran setinggi 50 meter dan sepanjang 20 meter menutup sekitar 1 hektare lahan pertanian dan saluran irigasi Cibanyuwangi.

Hingga Selasa (18/2) siang, material longsor itu masih menutup area pesawahan dan irigasi. Sehingga aliran air ke pesawahan serta kolam ikan di 6 desa lainnya, Santanamekar Cisayong, Sukajadi, Sukaraharja, Sukasukur dan Jatihurip, terhambat.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kecamatan, desa, dinantu aparat kepolisian, TNI dan warga antusias melakukan gotong-royong guna menyingkirkan material longsor tersebut.

“Longsor ini menutupi aliran irigasi dari sungai. Dimana irigasi ini mengairi area pesawahan dari enam desa. Saat ini yang kita lakukan tanggap kedaruratan. Yang terpenting dulu membuka aksea aliran air,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Tasik, Nurdin kepada wartawan di lokasi longsor.

Kepala Desa (Kades) Santanamekar, Ade Saefudin menuturkan, longsor ini juga menutup Sungai Cibanyuwangi yang mengalir ke irigasi.

Aliran air dari sungai ini adalah sumber utama saluran irigasi yang mengairi pesawahan dan kolah ikan untuk 6 desa.

“Dari dua desa saja sudah lebih dari 50 hektare sawah. Belum desa lainnya. Bukan hanya sawah yang terancam gagal panen, kolam warga juga bisa pada mati ikannya,” tuturnya.

Dia menambahkan, saat ini tebal material longsor itu tinggal 7 meter lagi. Warga bersama BPBD, Kepolisian dan TNI bahu-mebahu menyingkirikan material longsor berupa tanah, batu dan pepohonan.

Terpisah, Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar), Uu Ruzhanul Ulum menyatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar selama ini telah menyediakan dana darurat bencana untuk membantu seluruh daerah yang terdampak sebesar Rp25 miliar.

Dana itu siap digelontorkan sesuai dengan permintaan masing-masing pemerintah daerah yang selama ini terjadi bencana akibat cuaca buruk mulai dari longsor, banjir, puting beliung dan lainnya.

“Dana darurat bencana di Provinsi sudah tersedia Rp 25 miliar. Sampai sekarang belum habis masih tersedia. Kita cairkan sesuai dengan permintaan daerah yang terdampak bencana. Kalau nanti sudah habis, kita tambah lagi,” katanya.

Selama ini proses pancairan dana bencana provinsi itu harus atas pengajuan dari tiap daerah yang menyatakan darurat bencana.
Jika daerah tak mengajukan ke provinsi, tentunya anggaran itu tak bisa dicairkan karena harus sesuai ajuan draft peruntukannya.

“Tupoksinya berbeda di Jawa Barat, berbeda dengan Provinsi DKI yang gubernurnya bisa langsung eksekusi karena wali kotanya dipilih oleh gubernur. Kalau di Jabar harus ada ajuan dulu dari daerah, kalau tidak ada, ya tidak bisa dicairkan dana bencana itu,” tukas Uu.

Uu menandaskan, Provinsi Jawa Barat selama ini memang tengah fokus terhadap penanganan berbagai bencana akibat cuaca buruk.

“Kalau pemerintah daerah tak meminta bantuan kepada kami, kami tak akan berikan bantuan,” pungkasnya.

Apalagi di berbagai daerah Jabar telah terjadi bencana mulai longsor di Garut, banjir dan longsor di Kabupaten Tasikmalaya, serta beberapa daerah lainnya seperti Bogor, Majalengka, Cirebon, Bandung dan Sumedang.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.