Isu Panas Soal HOTS pada USBN SD

413
Oleh: Muhammad Rifqi Mahmud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah menetapkan dalam Surat Keputusan BSNP Nomor 0048/P/BSNP/XI/2018 terkait Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2019 bagi siswa kelas VI SD. Hanya tiga mata pelajaran yang diujikan dalam USBN di tingkat sekolah dasar, yaitu bahasa Indonesia, matematika dan IPA. Sedangkan naskah soal ujian untuk mata pelajaran pendidikan agama, PPKn, IPS, seni budaya dan prakarya, serta PJOK seluruhnya disiapkan sekolah.

Format USBN tidak berubah dengan tahun sebelumnya, terutama dalam pola pembuatan naskah ujian. Pada format USBN 2019, sebesar 20 hingga 25 persen soal disiapkan oleh pusat, sedangkan 75 hingga 80 persen disiapkan oleh guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG). Jadi, soal USBN dibuat dengan melibatkan guru dari berbagai sekolah dan disiapkan pusat akan direvisi dan disusun paket soal bersama KKG di bawah koordinasi Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Dengan begitu, guru-guru mata pelajaran di tingkat KKG atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) akan menyusun soal USBN sendiri. Sebagai alat evaluasi hasil belajar sendiri dengan terlebih dahulu guru-guru tingkat KKG dan MGMP kabupaten/kota mengikuti pelatihan untuk menyusun soal-soal sebagai alat evaluasi hasil belajar siswa. Dengan tujuan, guru-guru semakin memahami tentang standar isi, standar evaluasi, terutama kompetensi lulusan yang diharapkan. Bukan hanya yang diajarkan guru di sekolah, tapi apa yang harus dimiliki oleh siswa saat dinyatakan lulus.

Bercermin dari USBN 2018, permasalahan yang muncul dari USBN adalah ketakutan sebagian masyarakat terhadap soal High Order Thinking Skill (HOTS). Soal HOTS biasanya identik dengan soal yang sulit untuk dikerjakan. Apalagi ada masyarakat yang beranggapan bahwa soal HOTS tidak kontekstual, tidak natural, dan terkesan susah. HOTS merupakan kemampuan berpikir yang bukan sekedar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).

Model HOTS dalam penilaian mempunyai tujuan untuk mendorong siswa melakukan penalaran tingkat tinggi sehingga tidak terpaku pada satu pola jawaban yang dihasilkan dari proses hafalan, tanpa mengetahui konsep keilmuan. HOTS merupakan salah satu tuntutan keterampilan dalam pembelajaran abad 21, yakni berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Contohnya seperti membuat perbandingan, membuat analisis data, membuat kesimpulan, menyelesaikan masalah dan menerapkan pengetahuan mereka pada konteks kehidupan nyata. Intinya penilaian model HOTS ini dipakai untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia di tingkat internasional, khususnya hasil Program for International Student Assessment (PISA).

Dengan adanya ketakutan seperti itu, akan menambah kekhawatiran para orang tua terhadap anak-anaknya yang duduk di kelas VI SD. Apalagi USBN sendiri sebagai salah satu penentu kelulusan siswa sekolah dasar walaupun kriteria kelulusan ditentukan oleh sekolah masing-masing. Tahun lalu muncul berita tentang kebocoran USBN begitu maraknya termuat di media cetak dan elektronik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kebocoran soal USBN ini terjadi, di antaranya status akreditasi sekolah. Sekolah akan mendapat peningkatan akreditasi, jika nilai USBN siswanya bagus. Dengan demikian, sekolah melakukan berbagai cara untuk mendongkrak nilai USBN siswanya. Faktor lainnya, adanya guru sekolah yang bekerja sampingan sebagai guru les privat yang dikhawatirkan memberikan bocoran soal kepada siswanya.

Soal HOTS yang paling memengaruhi rendahnya rata-rata nilai USBN di beberapa daerah di Indonesia adalah pada mata pelajaran Matematika. Karena pada tahun 2018, soal kategori HOTS baru diperkenalkan di mata pelajaran matematika. Mengantisipasi hal tersebut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan sekolah dalam membantu siswa menghadapi soal HOTS USBN. Strategi pertama, siswa dipersiapkan sekolah untuk mengikuti try out minimal tiga kali setiap bulannya. Dengan begitu akan didapat hasil pemetaan siswa yang telah dikoreksi dan dianalisis. Hal yang harus diperhatikan adalah semua siswa perlu memahami indikator soal HOTS tersebut dan cara berpikirnya sudah sesuai yang diharapkan, karena kemampuan siswa yang satu dengan lainnya berbeda. Strategi kedua adalah menambah jam pelajaran. Pemantapan materi harus terus diberikan supaya peserta ujian benar-benar siap saat pelaksanaannya nanti. Dengan mengikuti pemantapan setidaknya mental atau psikologis siswa akan lebih baik untuk menghadapi USBN nanti. Strategi yang terakhir adalah penguasaan materi yang akan diujikan. Walaupun sudah mengikuti tambahan pelajaran mungkin masih ada siswa yang belum menguasai materi, terutama pada pelajaran matematika. Biasanya masih ada siswa yang sangat lemah pada operasi hitung dasar seperti perkalian dan pembagian.

Dari contoh permasalahan di atas, yang menjadi tantangan di USBN tahun 2019 di SD adalah dengan soal HOTS pada mata pelajaran matematika. Sebenarnya HOTS adalah soal yang memerlukan panalaran lebih panjang dari siswa, sesuai dengan logika yang diberikan di soal USBN. Maka dari itu, perlu diperkenalkan atau diberikan lebih banyak lagi soal HOTS di SD, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam mencerna soal dalam menghadapi USBN. (*)

  • Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Dasar UPI Bandung
loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.