Isu Penculikan Anak Hoax

38

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA –  Beberapa hari terakhir ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika banyak menerima aduan konten terkait isu penculikan anak. Aduan yang masuk baik melalui email [email protected]­minfo.go.id maupun melalui akun twitter @aduankonten dan akun @kem­kominfo dan @DitjenAptika.

Atas sejumlah adu­­an masyarakat ter­sebut, Subdit Pe­ngendalian Konten In­ternet,  Direktorat Pengendalian, Ditjen Apli­kasi Informatika ke­mu­dian melakukan verifikasi atas aduan tersebut.

Dari hasil pe­ne­lusuran dan iden­ti­fikasi, Kominfo me­nemukan dua isu hoax. Pertama, terkait dengan kasus penculikan anak di salah satu pusat perbelanjaan, Belga, Tulung Agung, Jawa Timur. Isu terkait penculikan anak ini selain tersebar di media sosial, juga tersebar melalui pesan berantai WhatsApp. Informasi tersebut juga sudah langsung dibantah oleh Kapolres Tulung Agung, AKBP Tofik Sukendar.

“Kapolres Tulungagung telah menyatakan isu tersebut adalah tidak benar atau hoax,” kata Ferdinandus Setu selaku Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo, kemarin.

Sementara, isu hoax kedua masih terkait dengan penculikan anak di Talang Jambe, Palembang. Faktanya informasi yang disebarkan tersebut adalah orang yang tertangkap karena ketahuan mau mencuri Handphone di daerah Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami Palembang Rabu (31/10).

Karena itu, lanjut  Ferdinandus, Kementerian Kominfo tak henti-hentinya mengimbau warga net untuk tidak menyebarkan hoax atau berita bohong atau kabar palsu melalui saluran internet, baik website, media online maupun media sosial.

Setiap pelaku penyebaran hoax melalui internet bisa dijerat dengan ancaman pidana 6 (enam) tahun penjaran dan denda Rp 1 miliar sesuai dengan ketentuan UU ITE.

Sebelumnya juga, pihak  Kepolisian telah mengklarifikasi beberapa cerita tentang penculikan anak yang akhir-akhir ini banyak beredar di media sosial adalah hoax. Berita di medos tentang penculikan dibuat oleh akun berbeda dengan waktu kejadian, tempat kejadian, modus dan korban yang berbeda.

Dia menjelaskan hoax yang beredar tersebut berisi tentang cerita penculikan anak dan pencurian organ tubuh yang tidak pernah terjadi. “Dari hasil pengecekan kejadian dapat disimpulkan foto yang ditampilkan baik tersangka maupun korban memang benar tetapi tidak sesuai dengan fakta kejadian sebenarnya,” katanya.

Tak hanya itu, Ferdinan­dus menambahkan, beberapa gam­bar yang dibagikan ter­sebut juga sama sekali tidak ber­hubungan dengan deskripsi gambar tersebut. Fakta kejadian sebenarnya dilihat dari waktu kejadian, tempat kejadian, pelaku dan latar belakangnya adalah kejadian yang berdiri sendiri dengan tidak ada hubungan satu dengan yang lainnya dengan latar belakang yang berbeda.

Dia mencontohkan ada foto seseorang yang diceritakan sebagai pelaku penculikan anak di Pontianak padahal yang bersangkutan adalah pelaku pencurian telepon selular di Bogor dan sudah ditangkap. Selain itu ada juga foto seorang korban dengan mata tertutup yang diceritakan sebagai korban penculikan dan pencurian organ yaitu mata, sementara faktanya foto tersebut adalah seorang anak yang meninggal karena dehidrasi.

“Foto korban di rumah sakit terbaring dengan mata tertutup diposting dengan pesan korban penculikan yang dicuri matanya padahal faktanya itu anak yang kelelahan naik sepeda mengalami dehidrasi meninggal dunia di rumah sakit,” ujarnya.

Cerita serupa juga beredar dengan memuat foto seorang korban yang meninggal di ladang dengan perut terburai padahal foto tersebut adalah korban perkosaan dan pembunuhan yang pelakunya sudah ditangkap.

Ia menyesalkan beredarnya berita hoaks tersebut karena dapat menimbulkan rasa takut di masyarakat.”Foto yang dipasang dituliskan pesan tentang penculikan anak dan pencurian organ tubuh untuk menimbulkan rasa takut masyarakat,” ucapnya.

Pihaknya saat ini tengah melakukan analisa terhadap akun-akun media sosial yang mengedarkan berita hoaks tersebut untuk mengetahui pelaku dan motivasinya.”Satgas siber saat ini sedang menganalisis akun-akun medsos yang berbeda yang memposting berita hoaks penculikan untuk mengetahui pelaku dan motivasinya dan apakah pemilik akun saling berhubungan,” tutupnya. (hrm/fin)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.