Iwan: Kalau Masih PNS Pemkab Tasik, Saya Mungkin Jadi Pelaku Curang

121
0
Dr H Iwan Saputra SE MSi Calon Bupati Tasikmalaya
Loading...

TASIK – Hasil Pilkada Serentak 2020 di Kabupaten Tasikmalaya masih menjadi sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK). Proses persidangan baru memasuki pendahuluan dan awal Februari kembali dilanjutkan.

Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun lalu memang terjadi dinamika yang luar biasa jika dibandingkan dengan pesta demokrasi sebelumnya. Mulai dari hadirnya kandidat dari pengusaha besar, Keluarga Mayasari Bakti, Azies Rismaya Mahpud dan pasangan calon independen Cep Zamzam.

Termasuk bertahannya koalisi PPP-PDIP yang mengusung petahana Ade Sugianto dan mundurnya ASN yang meraih penghargaan nasional, Dr H Iwan Saputra SE MSi untuk maju pada hajat lima tahunan ini. Dinamika pun terus terjadi sampai akhir pemungutan dan penghitungan suara.

Perolehan suara pun sangat ketat antara Ade dan Iwan sampai akhir. Hasil Rekapitulasi KPU Kabuapten Tasikmalaya menempatkan Ade-Cecep meraih suara terbanyak yang diikuti Iwan-Iip di urutan kedua dengan selisih sektiar tujuh ribuan suara. Akhirnya hasil rekapitulasi suara KPU disengektakan Iwan-Iip ke MK karena dinilai banyak kejanggalan dan dugaan kecurangan yang dilakukan penyelenggaran dan pasangan calon lain.

Baca juga : Permintaan Tinggi, Harga Aglonema di Kota Tasik Mahal

loading...

Calon Bupati Tasikmalaya Dr H Iwan Saputra SE MSi pun bercerita banyak pengalaman dan kesan yang dirasakan dalam pelaksanaan pilkada serentak ini. Termasuk keterlibatan penuh masyarakat dalam semua proses tahapan menjadi kebanggaan tersendiri, sehingga hajat demokrasi ini tidak hanya milik politisi atau partai politik.

“Pada pilkada ini, masyarakat hari ini sudah cerdas dalam menentukan pilihan dan sangat rasional pemikirannya. Jadi salah kalau ada yang beranggapn pragmatis atau suara masyarakat hanya selesai dengan uang,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

“Banyak hikmah di pilkada serentak ini, ketika turun ke masyarakat dan menayampaikan gagasan dengan lugas, masyarakat justru menyambut baik dan stigma yang pragmatis itu pudar bahkan justru tidak ditemukan,” ujarnya, menambahkan.

Menurutnya, kenyataannya banyak masyarakat yang mengeluarkan pendapat bahwa demokrasi adalah bagian perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik, mereka justru berkorban tenaga sampai materi. Mulai dari membantu sosialisasi sampai ikut serta dalam pemetaan pemenangan.

“Pada saat ke daerah banyak yang menyediakan makanan dan berbagai bantuan lainnya bahkan kalau dihitung bisa mencapi puluhan miliar dari masyarakat. Mulai menyediakan posko, pembuatan APK dan lainnya semua bergotong royong,” katanya.

“Bukti partisipasi masyarakat dalam pemenangan sudah sangat terlihat. Salah satu contohnya adalah pembuatan kaus WANI yang sangat beragam dan berbagai model serta gambar, mungkin ada puluhan versi atau bisa ratusan. Itu tanpa sepengatahuan saya, artinya memang ini keikhlasan dalam bergotong royong membantu dan terlibat langsung dalam pilkada,” ucapnya, menambahkan.

Kondisi ini, kata dia, menjadi harapan besar ke depan di pilkada yang akan datang, demokrasi yang berkualitas dan berintegritas ini bisa diwujudkan dan mematahkan pragmatis di masyrakat. Sehingga Kabupaten Tasikmalaya bisa semakin baik dari sisi demokrasi dan penyelenggaraannya.

Sejauh ini, kata dia, demokrasi egaliter yang dibangun dari rakyat, untuk rakyat sudah bertahap berjalan di Kabupaten Tasikmalaya. Artinya, bagaimana pilkada hari ini ada proses pembelajaran dan edukasi ke masyarakat soal demokrasi yang baik.

“Pada pilkada kemarin tidak ada yang berbicara uang, aplagi waktunya makin dekat masyarakat ini semakin cerdas dan menimbang mana yang terbaik harus dipilih pada pilkada tersebut. Terbukti suara kita (WANI, Red) yang menurut kami menang di Pilkada 2020,” katanya.

Menurut Iwan, yang memilih di luar nomor empat itu kemungkinan ada ketakutan atau mendapat intervensi tertentu. Sehingga dengan terpaksa memberikan pilihannya kepada yang melakukan intervensi atau hal lainnya tanpa hati nurani.

“Saya bangga dari bagian masyarakat yang semakin hari semakin sadar dan cerdas terhadap pentingnya berdemokrasi,” ujarnya.

Selama pilkada, kata dia, sudah turun ke masyarakat sebanyak 280 titik. Berbagai daerah didatangi dan bertemu langsung dengan masyarakat. Berbagai harapan dan aspirasi mereka sampaikan untuk bisa membawa perubahan Kabupaten Tasikmalaya. Bahkan dukungan mereka pun sudah terlihat dengan raihan suara saat ini.

“Apakah yang memilih petahana dengan raihan sekian persen itu benar benar dengan hati nurani untuk kembali memimpin atau ada faktor lain,” katanya.

“Saya punya tanggung jawab kepada masyarakat yang mengikuti dari awal proses demi proses. Akhirnya mereka larut menjadi bagian dari proses demokrasi ini, termasuk sampai kepada sengketa di MK,” ujarnya, menambahkan.

Kata Iwan, masyarakat banyak yang mengikuti proses sampai saat ini sudah menjadi keluarga dan ada ikatan emosional. Sehingga, ketika ada dugaan kecurangan pun mereka merasakan kesedihan dan larut. “Maka dari itu saya masih punya tanggung jawab untuk terus berjuang dan memperjuangkan harapan masyarakat ini,” katanya.

“Ketika kami merasa dicurangi, seluruh masyarakat sudah mengetahuinya. Stigma curang itu masyarakat yang awam saja sudah mengetahui adanya dugaan kecurangan. Karena sekarang sudah terlihat mana penyelenggara yang adil, berintegritas dan tidak,” tuturnya, menambahkan.

Iwan pun mengaku tidak ada rasa penyesalan harus keluar dari ASN untuk maju di Pilkada 2020. Karena kalau tetap bertahan di PNS tidak akan mendapatkan keluarga yang begitu banyak. “Hikmah lainnya, kalau saya ada di birokrasi atau PNS mungkin saya menjadi pelaku curang,” katanya, menambahkan. (yfi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.