Rabu (10/10) Bobotoh Aksi Besar di Bandung Sepak Bola Harus Steril dari Politik

Jabar Melawan Diawali Tasik

72

TASIK – Aksi unjuk rasa yang di­lakukan Bobotoh Ta­sikmalaya memicu semangat bobotoh di daerah lain untuk turun ke jalan. Rencananya Rabu (10/10) aksi de­monstrasi yang lebih besar akan digelar di Sasana Bu­da­ya Ganesha (Sa­buga) Bandung.

Aksi yang di­suara­kan Aliansi Bobotoh Tasikmalaya (Abot) bertajuk Tasik Melawan pada Minggu (7/10) meramaikan jagat media sosial, khususnya di kalangan bo­botoh.

Respon du­kungan atas ak­si damai itu pun terus digaungkan. Ketua Gerombolan Persib Viking Tasik­malaya (GPVT) Iman Getih mengatakan aksi yang digagas Abot merupakan yang pertama dalam menyikapi sanksi terhadap Maung Bandung.

Informasi yang dia dapat, bobotoh di daerah lain pun merencanakan aksi serupa. “Tasik pertama turun ke jalan, dan alhamdulillah suara kita disambut bobotoh lainnya,” ungkap Iman kepada Radar, Senin (8/10).

Sehingga, kata Iman, akan ada aksi lanjutan pada Rabu (10/10) di Sabuga Bandung dengan massa yang lebih besar. Perwakilan bobotoh dari Tasikmalaya pun akan ikut serta dalam aksi tersebut. “Perwakilan dari kita (bobotoh Tasik) juga akan ikut bergabung, karena ini sudah urusan masalah keadilan, ” terangnya.

Sampai kemarin, kata dia, semangat para bobotoh dalam memberikan dukungan kepada klub kebanggaan warga Jawa Barat belum kendor. Terlebih sanksi yang diberikan Komdis PSSI belum juga direvisi. ”Memang ada revisi bagi sanksi pemain Persib, tapi malah memperparah. Karena mulai diberlakukan saat melawan Madura United, padahal seharusnya ketika melawan Persipura,” ungkapnya.

Aktivis pemuda Kota Tasikmalaya yang juga bobotoh Persib, Myftah Farid Alhamjumi menilai sanksi terhadap Persib memang tidak adil. Karena ulah oknum pemain atau pendukung tim lain seakan tidak tersentuh. “Jadi seolah-olah kalau pemain persib atau bobotoh yang melakukan kesalahan, baru sanksi dikeluarkan,” ungkapnya.

Terlebih, kata Farid, kejadian yang menewaskan Haringga Sirla berlokasi di luar stadion dan sebelum pertandingan. Menurutnya banyak pelanggaran-pelanggaran pendukung atau pemain tim yang lebih parah saat pertandingan.

“Maka dari itu, saya berharap pengurus PSSI harus bisa steril dari politisi atau eks pemain atau pengurus salah satu tim sepak bola. Karena hal itu sangat sarat akan keberpihakan. Apalagi kalau politisi, sepak bola Indonesia bisa dipolitisir,” terangnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.