Jaga Protokol Kesehatan ala Seniman Kota Tasik

83
0
DEKORASI. Tempat duduk disekat payung geulis dalam kegiatan Apresiasi Seni Gelar Budaya 2020. Panitia mendekorasi gedung supaya tetap estetik meski menerapkan protokol kesehatan. Firgiawan / Radar Tasikmalaya

CIHIDEUNG – Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) memfasilitasi ruang kreativitas pegiat seni dengan menggelar Apresiasi Seni Gelar Budaya 2020. Kegiatan yang akan digelar hari ini (22/10) di Gedung Kesenian Tasikmalaya (GKT) itu tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Selain kelengkapan alat cuci tangan dan handsanitizer, semua yang terlibat diwajibkan menggunakan masker. Kapasitas gedung maksimal 300 orang pun hanya diisi sekitar 60 orang tamu undangan.

Baca juga : UNSIL Tasikmalaya Ditutup karena Sterilisasi Covid-19, Kecuali Fakultas Ekonomi

“Nah teman-teman seniman kali ini mendekor dengan payung geulis, sebagai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Tasikmalaya ke-19,” tutur Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya Endang RS kepada Radar disela persiapan, Rabu (21/10).

Ia mendeskripsikan, apabila di acara lain upaya physical distancing atau jaga jarak menggunakan tanda silang atau memberi jarak ideal dalam menekan risiko penyebaran Covid-19. Tapi pada kegiatan tersebut jarak antar penonton dibatasi dengan payung geulis.

“Selain secara kesehatan sangat dianjurkan menjaga jarak, secara estetik juga lebih indah,” kata Endang.

Dia mengatakan pada kegiatan tersebut sekitar 12 sanggar seni akan menampilkan kebolehan masing-masing. Mulai dari seni musik, puisi, kecapi dan lain sebagainya.

Penyelenggara kegiatan, Kepler Sianturi mengatakan digunakannya payung geulis sebagai sekat antar penonton dan tamu undangan menjadi terobosan para pegiat seni dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Payung geulis merupakan ciri khas simbol kebanggan masyarakat Kota Tasikmalaya juga merupakan aset luar biasa, yakni keindahan seninya telah dikenal seantero nusantara bahkan dunia,” kata dia.

Ia menjelaskan payung geulis tidak seperti kebanyakan payung pada umumnya, yang berfungsi sebagai pelindung saat hujan.

Payung geulis hanya bisa melindungi kita hanya dari sengatan panas matahari saja. Hal tersebut dikarenakan payung geulis terbuat dari kayu dengan penutupnya yang hanya dilapisi kertas.

Baca juga : 7 Pasien Positif Corona di Kota Tasik Meninggal

“Namun seiring berkembangnya zaman, payung geulis saat ini sudah berevolusi tidak berbuat dari kertas saja, namun sudah bermacam macam bahan yang digunakan, mulai dari plastik, kain, kanvas dan bordiran. Jadi kita juga sambil berupaya melestarikan warisan dikombinasikan sebagai dekorasi pada pertunjukan modern,” ucap Pimpinan Simphony Music School tersebut. (igi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.