BI Ajak TPID dan Petani Capacity Building ke Brebes

Jaga Stabilitas Harga Bawang Merah

136
0
SINERGI. TPID Priangan Timur bersama pejabat Pemkab Brebes foto bersama saat acara capacity building di Kantor Bupati Brebes Jawa Tengah Jumat (13/12). Kunjungan ini terkait pengembangan budidaya dan kerja sama antar daerah komoditas bawang merah. Lisna Wati / Radar Tasikmalaya

BREBES – Dalam upaya pengendalian inflasi komoditas bawang merah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya melakukan capacity building ke Kabupaten Brebes Jawa Tengah Kamis-Sabtu (12-14/12). Kegiatan ini diikuti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Se Priangan Timur dan stakeholder.

Kepala Unit Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya Yayat Sudrajat mengatakan, dari tahun ke tahun bawang merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar di Priangan Timur. Hal ini mengingat terbatasnya pasokan bawang merah di Priangan Timur.

“Keterbatasan pasokan ini membuat harga bawang merah tidak stabil dan memicu inflasi,” ujarnya di Brebes Jawa Tengah Jumat (13/12).
Untuk mengatasi hal tersebut, BI dan TPID Se Priangan Timur terus menggenjot produktivitas pertanian bawang merah.

“Makanya sekarang ini kita datang ke Brebes terkait pengembangan budidaya dan kerja sama antar daerah komoditas bawang merah,” katanya.

Peserta capacity building yang di dalamnya termasuk petani bawang diajak untuk bertemu dengan kelompok tani setempat. Selain itu, peserta juga berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Brebes.

“Brebes ini salah satu daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Kami ingin petani dan tim TPID Priangan Timur bisa menggali potensi yang ada di daerahnya setelah melakukan kunjungan ke Brebes ini,” sambungnya. Bahkan, kata ia, setelah kunjungan ini BI menjajaki kerja sama business to business dengan Brebes dalam hal pasokan bawang merah. Dengan pasokan yang mencukupi, diharapkan harga bawang di Priangan Timur bisa stabil.

Ia menambahkan, selama ini kebutuhan bawang merah di Priangan Timur dipasok oleh kelompok tani binaan BI di Sodonghilir, Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya dan Cimerak Pangandaran. Ketika kekurangan pasokan, kebutuhan bawang merah dipasok dari luar daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal M Taufik Amrozi mengatakan Brebes merupakan salah satu sentra bawang merah terbesar. Kontribusinya lebih dari 21 persen dari produksi nasional. “Brebes memproduksi sekitar 300 ribu ton bawang

merah tiap tahunnya. Ini untuk memenuhi kebutuhan Jawa Tengah dan nasional,” katanya. Dengan pasokan yang terjaga, diharapkan tercipta kestabilan harga. “Kami berupaya menjaga daya beli masyarakat, syukur-syukur harganya bisa ditekan,” katanya.

Ia menyebutkan, selain terus meningkatkan produktivitas bawang merah, Brebes juga berinovasi dengan membuat produk olahan bawang dalam bentuk pasta. “Inovasi ini diperlukan untuk menggeliatkan ekonomi dan melepaskan ketergantungan negara kita dari produk impor. Kalau segala kebutuhan kita didatangkan dari luar negeri, rupiah kita bakal terpuruk,” ujarnya.

Makanya, pemerintah dan BI mendorong para petani bawang ini untuk melakukan ekspor produk olahan bawang. “Kelompok tani di bawah pimpinan Pak Juwari kini sudah bisa mengekspor 56 ton pasta bawang ke Arab Saudi. Ini kontribusi Brebes untuk negeri,” katanya. Kalau petani sudah bisa ekspor, sambungnya, maka diharapkan bisa menstimulasi industri-industri untuk menjadi pahlawan devisa juga. “Warna merah pada bawang merah ini

dianalogikan seperti bendera sang saka merah putih yang mampu memberi semangat kepada petani untuk membangun negeri dan menyelamatkan rupiah,” katanya. Ia berharap, Priangan Timur bisa termotivasi untuk membangkitkan produktivitas petani-petani khususnya petani bawang merah. “Harus optimis bahwa ekonomi Priangan Timur bisa lebih maju dan mampu melahirkan petani-petani unggul dan produktif,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya Tedi Setiadi mengatakan, kebutuhan bawang merah di Kota Tasikmalaya terus meningkat, namun stoknya terbatas. Sehingga Kota Tasikmalaya terus mendorong agar sektor bawang merah ini terus meningkat. “Berbagai upaya akan kita tempuh termasuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani bawang dan stakeholder. Tak sekadar penyuluhan, lebih dari itu ada pendampingan,” katanya.

Tedi mengatakan, bawang merah ini cocok ditanam hampir di semua tanah, petani pun harus berani melakukan terobosan. “Kita akan menginvetarisir daerah mana saja yang berpotensi untuk menghasilkan bawang merah, kita akan genjot agar

kebutuhan bawang merah di Kota Tasikmalaya bisa dipenuhi oleh lokal,” katanya. Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, BI dan mitra bisa mengakselerasi peningkatan produktivitas pertanian di Kota Tasikmalaya.

EKSPOR PERDANA PASTA BAWANG
Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia Juwari mengatakan petani di Desa Sidamulya Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah mengolah bawang merah menjadi pasta. “Ini adalah terobosan kami dalam meningkatkan nilai tambah produk bawang merah,” ujar Juwari yang juga petani penggagas pasta bawang merah.

Ekspor pasta bawang merah pertama dilakukan awal bulan Desember 2019. Ekspor kedua akan dilakukan pada tanggal 19 Desember 2019.

“Pembuatan pasta bawang merah ini juga sebagai upaya menyiasati ketersediaan bawang merah yang melimpah. Bawang-bawang berukuran kecil atau dibawah grade C diolah menjadi pasta,” katanya.

Olahan bumbu bawang merah praktis ini ternyata diminati pasar luar negeri seperti Arab Saudi. Negara ini menjadi pasar ekspor utama dengan permintaan 18 ton per bulan.
Meski permintaan tinggi, Juwari dan kelompoknya memiliki keterbatasan produksi. Mesin canggih bantuan Bank Indonesia (BI) baru mampu mengolah bawang merah menjadi pasta 500 kilogram per hari. “Meski masih terbatas, kami optimis bisa memenuhi permintaan pasar,” ucapnya.

Sementara itu pasta bawang dengan merek dagang Ulekan Bawang ini, memiliki ketahanan hingga 6 bulan di dalam suhu ruang. Sedangkan di dalam lemari pendingin, bisa bertahan hingga 1 tahun. “Tanpa bahan pengawet, hanya memakai garam saja,” ungkapnya. Pasta bawang pertama di Indonesia ini

dibanderol dengan harga Rp 40 ribu per kilogram dan menjadi solusi untuk bumbu masak yang praktis. Selain pasar ekspor, pasta bawang Brebes ini mulai dijual oleh industri bumbu di Tangerang. (na)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.