Tak Sesuai Konsep Ramah Lingkungan

Jalan HZ Mustofa Di Kota Tasik Seperti Ruang Terbuka Plastik

61

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

CIHIDEUNG – Pohon kelapa plastik yang dipasang pada median Jalan HZ Mustofa bukan sebagai pohon hiasan semata. Melainkan sebagai lampu penerangan yang dibentuk menyerupai pohon supaya lebih indah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Konsultan Perencana Penataan Median Jalan HZ Mustofa H Nanang Nurjamil. “Pohon plastik itu, esensinya bukan sebagai pohon. Aksesoris pengganti lampu. Sebab median jalan harus diberi penerangan supaya lebih terlihat cantik dan estetis di malam hari. Pertimbangannya, lebih proporsional dan indah apabila berbentuk pohon,” bebernya kepada wartawan, Rabu (7/11).

Nanang bisa memahami apabila pemasangan pohon plastik yang identik dengan warna hijau dan kuning pada proyek senilai Rp 1. 268.400.000 itu menuai reaksi negatif dari publik. “Kemungkinan masyarakat melihat lampu itu, fungsinya sebagai pohon. Sebab fakta di lapangan saat ini yang sudah terbangun ada yang tidak sesuai dengan perencanaan. Kita dalam perencanaan juga menyertakan pohon asli di mediannya. Wajar mengundang persepsi buruk masyarakat,” jelas dia.

Dalam konsep penataan median jalan, terang Nanang, telah disertakan bunga matahari, pohon trembesi untuk menyerap karbondioksida serta sansivera. Tetapi dalam pelaksanaan tidak terlihat sampai saat ini. “Saat kami ekspose perencanaan, ketika ada yang harus direvisi ya kita perbaiki. Di antaranya Pak Wali Kota saat itu ingin ada bunga matahari. Tapi pepohonan lain juga yang sudah direncanakan belum terlihat,” papar Nanang.

Nanang memang menyesalkan saat proses penggarapan hingga hampir memasuki masa kontrak berakhir, tidak ada koordinasi dan komunikasi sama sekali dari pemerintah, kontraktor pelaksanaan dan konsultan pengawas.

“Terus terang kami menyesalkan, saat pembangunan berjalan sampai dengan saat ini tidak ada koordinasi. Melihat ada beberapa item dari perencanaan tidak terlihat,” tutur dia.

Sementara itu, Ketua DPD Lembaga Pemantau Lingkungan Hidup Indonesia (LPLHI) Kota Tasikmalaya Asep Devo menjelaskan seharusnya pemkot mengutamakan penanaman pohon asli di ruang terbuka. Apalagi, HZ Mustofa terbilang jalur sibuk yang dipadati hilir-mudik kendaraan. “Pembangunan itu harus ramah lingkungan, kalau menggunakan plastik tidak bisa menyerap air apalagi karbondioksida dari kendaraan,” ungkapnya saat menghubungi Radar.

Menurutnya, suhu Kota Resik kian hari kian memanas. Apalagi galian C dan pengerukan bukit makin marak. Sedangkan penanaman pohon di perkotaan minim. Untuk itu, di median jalan seharusnya digunakan untuk menanam pohon yang meng­hasilkan oksigen.

Supaya sesuai dengan kon­sep pem­bangunan ruang ter­buka hijau. “Seharusnya ditanamkan seperti pohon trembesi dan pohon-pohon hias yang biasa di pergunakan untuk median jalan. Kalau de­ngan plastic kami tidak setuju karena tidak ramah ling­kungan,” tegasnya.

Pihaknya akan mendatangi dinas terkait dan DPRD untuk mempertanyakan tujuan penataan median jalan. Kemudian arah kebijakan pembangunan tersebut yang secara kasat mata sudah terlihat kurang ramah lingkungan. “Apalagi anggarannya Rp 1,2 miliar. Kita akan protes ke dinas terkait waktu dekat ini, supaya semuanya jelas,” tegas Asep. (igi)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.