Jangan Ada Kekerasan Anak Lagi

36
0

CIAMIS – Menjadikan Ciamis sebagai kabupaten layak anak membutuhkan keseriusan dan peran serta banyak pihak. Kini, Ciamis saat ini baru tahap kabupaten layak anak kategori pratama.

Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Ciamis Vera Fillinda SH MH menjelaskan Ciamis meraih penghargaan kabupaten layak anak kategori pratama selama dua tahun berturut-turut. Yaitu pada 2018 di Kota Surabaya dan 2019 diserahkan di Kota Makasar.

Tentunya, kata dia, hal itu membuktikan bahwa Pemkab Ciamis benar-benar serius mewujudkan terpenuhinya hak-hak anak, melalui kabupaten layak anak tersebut. “Mudah-mudahan di tahun berikut bisa menembus sebagai pemenang ke kategori yang lebih atas lagi,” ujar Vera kepada Radar Rabu (11/12) siang.

Mewujudkan kabupaten layak anak, warga Ciamis harus melakukan pola asuh kepada anak dengan baik dan benar. Terlebih, ilmu-ilmu parenting banyak di media sosial. Itu bermanfaat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Intinya kami sayangkan bila ada kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Ciamis,” paparnya.

Salah satu kasus kekerasan yang menyita perhatian publik yaitu anak tiri yang dianiaya ayah tiri di Kecamatan Sindangkasih. “Tentunya ini harus menjadi cermin bagi kita semua serta para orang tua agar lebih memperlakukan anak dengan baik dan menyayanginya sepenuh hati. Perlakukan anak dengan rasa kasih sayang,” paparnya.

Vera pun berpesan agar orang tua juga harus memperhatikan anak-anaknya, terutama yang berusia tanggung atau ABG. Karena mereka rentan terpengaruh lingkungan. Jangan sampai anak terlibat hukum, pencurian, kekerasan atau pelecehan juga.

“Tentunya upaya oran tuanya atau tenaga pendidiknya lebih ekstra pengawasan terhadap anak yang masih belia serta diberikan pemahaman mengenai tata krama serta akhlak baik,” ujarnya.

Anggota Komisi D DPRD Ciamis dari Fraksi PDI Perjuangan Yogi Permadi berharap ke depan Kabupaten Ciamis bisa menjadi kabupaten layak anak. Untuk itu semua pihak jangan sampai ada lagi kasus kekerasan kepada anak. Seperti di Kecamatan Sindangkasih. Di sana, ayah tega membunuh anak tiri. Hal itu harus menjadi evaluasi semua pihak atau dinas terkait.

Agar kekerasan tidak terjadi lagi, kata Yogi, harus dilaksanakan penyuluhan hukum kepada masyarakat di kecamatan-kecamatan.

“Saya kira penyuluhan atau sosialisasi masalah hukum kepada masyarakat masalah kekerasan anak itu sangatlah penting,” tandasnya.

Sebelumnya, Ciamis belum bisa disebutkan kota layak anak. Namun, menuju kota layak anak.

Demikian dikatakan Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) Arist Merdeka Sirait SH usai mengisi seminar Pencegahan Terhadap Anak dan Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum di Gedung PKK di halaman Pendopo, Ciamis Selasa (10/12) pagi.

“Sebuah kota layak anak dibangun dimulai dari rumah dan seterusnya,” ujar Arist Selasa (10/12) pagi.

Menurut Arist, Kabupaten Ciamis belum dikatakan kota layak anak, tapi menuju kota layak anak. Mereka harus memenuhi 31 indikator. Salah satunya memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

Misalnya bila masih ada yang belum punya akta lahir di wilayah Kabupaten Ciamis, itu harus dipenuhi. Itu salah satu kampanye untuk memenuhi 31 indikator. Jadi hari ini salah satu dari 31 indikator yang diinisiasi oleh Polres Ciamis bagaimana memutus mata rantai kejahatan terhadap anak. Khususnya anak yang berhadapan dengan hukum,” ujarnya.

Secara nasional, kata dia, 58 persen kejahatan terhadap anak didominasi kasus pelecehan seksual. Itu berdasarkan laporan dari polres dan lembaga-lembaga atau kegiatan perlindungan anak.

“Maka jangan heran kalau Indonesia saat ini berada di dalam darurat kekerasan terhadap anak,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi mata rantai kejahatan kepada anak itu, perlu dibangun cara pandang masyarakat agar di rumah itu ramah anak. Karena itu menjadi benteng bagi perlindungan anak. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.