Jangan Ditangkap! Macan Tutul Gunung Sawal Ciamis Punya Sifat Dendam

217
0
DILEPAS. Macan tutul bernama Si Abah sebelum dilepaskan di Gunung Sawal. Warga sekitar masih merasa terancam ketika hewan tersebut dilepas. IMAN S RAHMAN / RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Kepala Resort Wilayah XIX Gunung Sawal, Ciamis Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis Warid mengaku masih memantau macan tutul Si Abah yang dilepaskan lagi di Gunung Sawal.

Pemantauan macan tutul Si Abah, kata Warid, untuk memastikan hewan buas berusia 11 tahun atau sekitar 60 tahun usia manusia itu tidak lagi kembali ke Cikupa, Ciamis. Pemantauan dilaksanakan di Pasirtamiang Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis.

Baca juga : PPDI Ciamis Gelar Seminar, Langkah untuk Memajukan Desa

“Insyaallah tidak akan mengganggu lagi, apalagi sampai memangsa hewan masyarakat lagi,” papar Warid kepada Radar, Kamis siang (27/8).

Warid menambahkan, memang sekitar sebulan ke belakang, dia menerima laporan ada macan ke wilayah Sukaraharja Kecamatan Lumbung, namun tidak sampai memangsa hewan. Hanya terlihat jejak kakinya. Jadi macan itu beda lagi. Bukan Si Abah. Bahkan yang kemarin ada jejaknya itu terbilang baik.

Bahkan, kata dia, di Dusun Pogor masih Kecamatan Lumbung, macan tampak ke dekat permukiman masyarakat. Sempat pihaknya mau menghalaunya dengan petasan, tapi masyarakat sekitar, menyebutkan tidak apa-apa, karena di wilayahnya ini bersahabat dengan masyarakat.

Menurut warga, kata Warid, fenomena macan ke dekat pemukiman, sudah terbiasa dan tidak mengganggu masyarakat. Terkadang pernah sampai ke pemukiman juga. “Jadi warga menyebutkan ke saya bahwa macan tidak pernah mengganggu, karena macannya juga tidak pernah diganggu, kata masyarakat tersebut bilang ke saya,” paparnya.

Bahkan, kata dia, di Pasir Pogor pernah ada macan melahirkan di area pemakaman umum. Warga juga tidak mengganggu dan membiarkannya begitu saja.

Soal area jelajah macan yang sampai ke Kecamatan Lumbung, karena masih banyaknya makanan untuk macan. Air juga ada. Bagaimana dengan macan yang kerap meneror warga? Dia menganalisa kemungkinan hewan meneror warga di Dusun Cikupa Kecamatan Lumbung, hingga makan hewan ternak.

Bisa saja hewan itu dendam, karena ada sebagian orang berusaha menangkapnya. “Toh kan yang di daerah lain aman-aman saja, karena macan itu hampir di setiap kampung pasti turun,” terangnya.

Jika macan itu diganggu atau ditangkap, secara naluri, instingnya lebih tajam daripada manusia, maka mereka akan dendam. Namun, jika diperlakukan baik, mereka juga akan baik. Contohnya, macan yang benar-benar sangar bisa takluk oleh pawang.

Baca juga : Kinerja Bupati Ciamis Dievaluasi Mahasiswa

“Pelepasan macan di Pasirtamiang Cihaurbeuti pun sampai saat ini tidak mengganggu, bahkan pernah kena jerat untuk babi hutan warga lepaskan tidak sampai melukai masyarakat,” paparnya.

Sepengetahuannya, macan yang turun ke pinggir hutan dekat pemukiman, tidak akan mengganggu asalkan tidak diganggu. “Saya ingatkan jangan sampai berusaha untuk menangkap, karena macan juga bisa balas dendam,” tuntasnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.