Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
16%

84%

Jangan Kasih Kendor

14
0
Oleh Asep M Tamam

Ramadan berlalu. Tapi kenangannya masih terpaku. Pelajaran-pe­lajarannya akan selalu mengiang. Kebaikan dan kesempur­naan­nya tetap me­nyisakan ruang.

Sebagai bulan mulia, Ramadan terlalu mahal untuk dilupakan. Panggilan sekaligus undangan ritualnya terlalu penting untuk segera dilupakan. Bagi mereka yang merasa terpanggil dengan seruan berpuasa dan menjalaninya dengan keimanan dan penuh harapan, Ramadan telah menjadi sahabat selama sebulan kemarin. Persahabatan dengan Ramadan harus berakhir seiring datangnya fajar baru di bulan baru.

Kini kita berada di bulan Syawal. Bulan yang akan mengantar kita menjauh dan terus menjauh. Lambat laun, kesan dan kenangannya akan memudar.

Suasana baru kini mulai tiba. Posisi semula kembali kita rasa. Rutinitas dihadapi dengan nada dan irama yang akrab di telinga dan mata. Kita kembali dengan kebiasaan lama. Aturan mulai longgar. Kebiasaan buruk kembali ditekuni. Kehidupan kembali tanpa kendali. Hidup lebih bebas dan sekat-sekat yang mengikat mulai lepas.

MAKNA SYAWAL

Dalam pema­ha­man umat Islam di Indonesia, Syawal sering dipahami sebagai ”bulan peningkatan”. Belakangan, beberapa pihak menyanggahnya. Dalam pema­ham­an mereka secara lughawi (etimologi), Sya­wal diambil dari kebiasaan orang Arab ketika di bulan ini unta mengandung dan mengangkat ekornya sebagai tanda tidak bersedia dikawini. Di bulan ini, masyarakat Arab juga sudah mulai menyimpan senjata. Mereka sangat menghormati bulan-bulan selanjutnya, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram sebagai bulan haram berperang. Di bulan Syawal juga suhu udara naik dan menyengat. Syawal, sebagai satu dari dua belas bulan Hijriyah, juga dikenal masyarakat Arab sebelum adanya Islam.

Dalam pemahaman penulis, tak salah memahami Syawal dengan ”bulan peningkatan”. Umat Islam di bulan ini mesti diberi motivasi untuk bisa menaikkan suhu spiritualnya. Di bulan ini, kesadaran beragama jangan menurun. Di bulan ini, umat Islam harus mempertahankan religiousitas ketika suasana mulai berubah dan suhu materialisme kembali menguat.

Bulan Syawal dalam kalender Hijriyah berada pada urutan ke sepuluh. Jika dihubungkan dengan prestasi akademis, nilai tertinggi adalah 10. Seharusnya, di bulan ini umat Islam mampu merawat pohon keimanan yang disiram sebulan penuh di bulan Ramadan. Nilai 10 adalah nilai sempurna.

JANGAN KENDOR

Di bulan Syawal, kita tak lagi dibebani kewajiban puasa. Di bu­lan ini, makanan dan kue Lebar­an disajikan dengan ane­ka rupa dan rasa. Sebagian dihadirkan dengan memaksakan diri. Sebagiannya lagi diada-ada dengan berlebihan. Meng­ha­dir­kan makanan dianggap seba­gai kewajiban. Makanan pun terhidang. Kewajiban ber­­­puasa lepas dari beban. Se­cara naluriah, kita tak sulit me­le­­watkan kesempatan melam­­­piaskan hasrat makan se­puas­nya. Jika suasana batin yang memuncak di bulan Rama­dan kini dikendurkan, maka sisa-sisa kesan Ramadan menjadi sia-sia.

Itulah sebabnya, bulan Syawal memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah sebagai ”bulan setahun”. Maksudnya, siapa yang melakukan saum sunnah enam hari di bulan ini, maka pahalanya sama dengan berpuasa selama setahun.

Siapa yang melakukan saum sunat enam hari di bulan Syawal? Ternyata pelakunya tak sedikit. Tak hanya para kiai dan santri, masyarakat umum juga banyak yang terbiasa menyempurnakan saum Ramadan sebulan dengan saum sunat enam hari di bulan Syawal.

Selain menyempurnakan pahala saum Ramadan, puasa sunat enam hari di bulan Syawal juga efektif mendidik berbagai dimensi kehidupan umat Islam. Dalam catatan medis di berbagai rumah sakit, atau ruang praktik dokter, pasien di bulan Syawal meningkat. Umumnya karena pola makan yang berubah drastis. Makanan khas lebaran mengacu pada konsep ”asal enak dan nikmat” dan tidak mementingkan sehat atau berbahaya. Makanan-makanan berasa pedas sangat digemari. Pola makan di bulan ini sangat tidak bersahabat untuk kesehatan.

Kebiasaan positif di bulan Ramadan jangan dikendurkan. Melepas rantai-rantai rutinitas khas Ramadan akan menyulitkan kita memulai sesuatu yang positif dan mentradisi di kalangan ulama dan orang-orang saleh dari generasi ke generasi. Selain saum sunat, juga ritual lain harus tetap dijaga. Ibadah vertikal seperti salat dan puasa sunat, ibadah sosial dengan menjaga pergaulan dan hati, juga sikap batin menghadapi aneka tantangan hidup harus terus dipertahankan. Semua ini membantu menguatkan ikatan dan hubungan dengan Ramadan.

Laksana seorang sahabat, Rama­dan tak boleh dilepas bebaskan. Per­sahabatan ini harus tetap dipupuk dan dirawat, hingga ia hadir dan menjelma kembali di tahun depan.

Wallâhu a’lam. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.