Jangan Menuai Badai

255
0

Menjelang akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 25 dan 30 November 2017, dua peristiwa kriminal mengejutkan saya. Bagaimana tidak terkejut, dua kejadian kriminal berupa pencurian sepeda motor dan aksi jambret. Pelakunya pelajar!
Saya teringat beberapa tahun lalu diskusi dengan seorang perwira menengah di kepolisian. Kami membahas soal geng motor. Beliau memiliki kerisauan, munculnya fenomena geng motor waktu itu ibarat ada yang memola. Beliau mengibaratkan fenomenanya sebutir telur. Ada cangkang. Ini bagian luar yang dikemas berupa kenakalan remaja. Berikutnya bagian putih telur. Lapisan ini berbentuk perbuatan kriminal. Lapis ketiga adalah kuning telur. Di sini ada bisnis. Sang perwira risau bahwa munculnya fenomena geng motor yang didominasi pelajar itu, ada pihak yang tujuan utamanya kuning telur. Yakni sedang menciptakan pasar bisnis untuk peredaran miras, narkoba, bahkan judi. Pelaku bisnis itu menciptakan sekaligus memelihara pasarnya via eksisnya geng motor itu.
Sayangnya, kami saat itu baru sebatas diskusi. Beliau –dengan pangkat dan jabatannya saat itu— tidak sempat membuktikan kerisauannya. Karena tak lama setelah itu, sang perwira dua melati itu harus pindah tugas ke kota lain. Komunikasi kami pun terputus.

**
Tapi, adanya dua peristiwa kriminal yang pelakunya pelajar tingkat pertama dan atas, saya jadi takut sendiri. Bagaimana kalau kerisauan sang perwira menengah itu bukan saja sebuah fakta. Lebih dari itu. Fenomena telur sudah menjadi sistem yang demikian kuat. Mencengkram pelajar-pelajar itu!
Saya juga takut, kuatnya sistem itu, membuat kita terkelabui. Kita meyakini aksi-aksi mendekati kriminalitas pelajar itu sebagai kenakalan remaja biasa saja. Pelajar pesta minuman keras hingga mabuk, pelajar berbuat vandalisme di setiap penjuru bangunan kota, pelajar tawuran, kita anggap sesuatu yang wajar untuk seusianya. Lalu seiring waktu, kita pun melupakannya.
Selama ini, kita cenderung reaktif saja terhadap kejadian. Jika ada kehebohan, tiba-tiba semua elemen masyarakat bersuara lantang. Bergerak datang ke kantor polisi, aksi keprihatinan di jalanan, hingga bernafsu memburu pelaku.
Kita hampir tidak pernah fokus pada akar masalahnya. Alpa melakukan upaya perbaikan yang masif dan terukur hasilnya. Salah satunya membenahi cara mendidik para pelajar itu. Baik di sekolah, di keluarga dan di lingkungan. Di tiga tempat inilah kadang-kadang pendidikan membingungkan para pelajar. Nilai-nilai kebaikan, moral, agama yang mereka peroleh di sekolah, tak selaras dengan lingkungan. Bahkan rumah!
Mengawali tahun 2018 ini, mari kita berbenah diri. Selamatkan para pelajar generasi penerus bangsa ini. Kita bangun jiwanya. Bentuk mereka jadi generasi cerdas dan berakhlak mulia. Sebab sesungguhnya, kita menitipkan masa tua kita kepada mereka.
Jika hari ini mereka kita sia-siakan. Jika hari ini mereka kita abaikan. Maka bersiaplah esok lusa kita menuai badai derita dan kehinaan… dari angin yang kita taburkan! (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.