Jelang Lebaran, Omzet Pedagang Pasar Cikurubuk Turun, Harga Sulit Diprediksi

154
0
PESIMIS. Pedagang di Pasar Cikurubuk pesimis mendapat keuntungan besar menjelang Idul Fitri tahun ini. Deni Nurdiansah/Radar Tasikmalaya

Menghadapi Hari Raya Lebaran 2020, para pedagang di Pasar Cikurubuk pesimis akan mendapatkan keuntungan seperti Lebaran tahun 2019. Hal itu karena pemberlakukan PSBB.

Deni Nurdiansah, Mangkubumi

Salah seorang pedagang sayuran Tedi (30) mengatakan omzetnya turun drastis hingga 50 persen sejak awal puasa kemarin.

Baca juga : Pembawa Uang Palsu ke Tasik Mau Ketemuan Orang Pintar, Untuk Dijadikan Asli

Ditambah lagi ketika Pemkot Tasikmalaya memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Itu mengakibatkan operasional pasar jadi dikurangi.

”Kekhawatiran ini muncul pada awal April tahun lalu ketika corona muncul, pendapatan saya turun drastis, lalu ke sininya bukan membaik malah makin turun,” jelasnya kepada Radar, Rabu (13/5).

Loading...

Hingga pertengahan Ramadan ini pembeli memang masih ada, tapi tidak seramai tahun lalu. ”Biasanya kalau 10 hari sebelum Lebaran ramai pembeli, tapi sekarang ngeureuyeuh (sedikit-sedikit, Red),” kata dia.

Saat ini juga barang dagangan sulit dapat. Contohnya, bawang merah yang biasanya didatangkan dari Jawa Tengah.

“Hampir semua sayuran itu dari Jawa dan juga Garut, karena pembatasan ini jadi sulit didapat,” jelasnya.

Harga juga terpengaruh oleh kelangkaan barang tersebut, dimana setiap harinya mengalami naik turun. ”Naik turunnya sangat cepat dan tidak dapat diprediksi,” kata dia.

Penjual daging ayam Taufik Hidayat (39) juga mengalami hal serupa. Pembeli daging ayam mengalami penurunan sejak awal bulan April.

”Saya bersyukur kalau ada yang beli, itu juga kadang seharinya hanya beberapa kilo saja, tidak sampai belasan kilo, enggak tahu nih menjelang Lebaran seperti apa,” ucapnya.

Penjual telur dan beras H Feri mengatakan telur yang ia jual biasanya mencapai harga Rp 26.000 per kilogramnya, kini yang ia jual hanya Rp 16.000-Rp 19.000. Tergantung jenis dan ukuran telur.

”Enggak ada pembeli telur saya banyak yang busuk, setiap harinya harus dicek,” jelasnya.

Ia tidak menampik bahwa sepinya pembeli sejak diberlakukannya pembatasan jarak sosial dan diberlakukannya PSBB.

”Sekarang harga pun tidak bisa diprediksi dan tergantung daerah masing-masing. Kalau sebelumnya sering ngikut harga di Jakarta, tapi sekarang tidak bisa,” ucapnya.

Sudah dua tahun ia berdagang di Pasar Cikurubuk dan ia tidak menyangka mengalami kondisi sulit seperti ini.

“Yang lebih kasihan lagi para peternak (ayam) telur, pakan enggak turun, telur yang dihasilkan banyak tapi tidak ada yang DO (delivery order, Red),” jelasnya.

Kepala UPTD Pasar Resik I Udin mengatakan bahwa penurunan pembeli menjelang Lebaran tahun ini sudah diprediksi jauh-jauh hari.

”Maklum kondisinya seperti sekarang ini dan tidak hanya di Cikurubuk, tapi hampir semuanya,” singkatnya.

Harga Gula Pasir Masih Melambung

Di Jakarta, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti dua komoditas pangan yakni harga gula pasir dan bawang merah yang masih melambung tinggi. Di lapangan, harga gula pasir hingga mencapai Rp17,500 per kilogram (kg) dan bawang merah Rp51 ribu per kg.

“Ada dua yang ingin saya soroti gula pasir dan bawang merah. Rata-rata bawang merah masih Rp 51.000 per kg. Sementara rata-rata gula saat ini hingga Rp 15.500 per kg,” ujar Jokowi dalam video daring, Rabu (13/5).

Padahal, lanjut Jokowi, gula pasir yang ditetapkan pemerintah, yakni Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp12.500 kg. Sementara, bawang merah Rp 32.000 per kg.

Karenanya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu meminta kepada seluruh jajarannya untuk mencari biang kerok kenapa harga dua komoditas itu sampai terkerek cukup tinggi.

“Saya ingin ini dilihat masalahnya ada di mana, urusan distribusi atau memang stok kurang atau memang ada yang sengaja mempermainkan harga. Saya minta cek di lapangan,” tegas Jokowi.

Terkait peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahwa dampak Covid-19 berdampak pada kelangkaan bahan pangan, Jokowi meminta kepada jajarannya untuk mengamankan ketersediaan stok pangan di tengah kondisi corona ini.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga berupaya menggenjot daya beli masyarakat melalui bantuan sosial (bansos).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat bahan pangan mengalami deflasi sebesar 0,13 persen pada pertengahan April 2020.

“Ini ada indikasi penurunan permintaan bahan pangan dan artinya daya beli masyarakat menurun,” kata Jokowi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Satgas Pangan akan mengawasi distribusi gula pasir sehingga harga komoditas tersebut akan stabil.

“Satgas Pangan sudah ditugasi untuk memonitor setiap saat, seperti daripada salah satu pelelangan gula pun dimonitor oleh satgas pangan,” ujar dia.

Upaya lainnya, pemerintah kan mengalihkan dari gula rafinasi ke gula konsumsi untuk menambah stok. Dengan demikian, diharapkan langkah itu bisa membantu menekan kenaikan harga.

Di sisi lain, melambungnya harga gula juga disebabkan tak lancarnya impor gula lantaran adanya wabah corona. Hal itu membuat pasokan gula tak mencukupi.

“Harga gula memang ada beberapa impor yang jadwalnya tertunda, karena beberapa daerah di negara lain ada pembatasan akibat lockdown,” katanya.

Baca juga : 29.600 Lembar Uang Palsu Pecahan Rp100 Ribu Siap Edar Disita Polres Tasik, 4 Tersangkanya Diringkus

Adapun upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dalam menstabilkan harga gula pasir, adalah sejak awal April pihaknya telah meminta pabrikan gula rafinasi untuk ikut memproduksi gula pasir putih yang bisa dikonsumsi masyarakat.

Kemudian, sebanyak 250.000 ton gula pasir putih juga telah digelontorkan Kementan ke pasaran. Selain itu, Kementan juga bersinergi dengan instansi pemerintah lainnya menggelar Operasi Pasar (OP). (din/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.