Jelang Ramadan, Warga Desa Ciomas Nyepuh

500
0
NYEPUH. Warga berdoa bersama di makam KH Panghulu Gusti Rabu (2/5).

PANJALU – Menjelang Ramadan, warga Desa Ciomas Kecamatan Panjalu melaksanakan tradisi nyepuh di Situs Geger Emas. Tradisi ini dilaksanakan pada Rabu (2/5) sekitar pukul 09.00. “Tujuan dari nyepuh ini adalah untuk membersihkan atau mensucikan diri,” ujar Maya Sumarni (42) saat dihubungi Radar, Kamis (3/5) siang.

Maya adalah anak Mak Iyam, juru kunci Situs Geger Emas. Menurut dia, tradisi itu sudah dilakukan warga secara turun temurun, menjelang Ramadan. Prosesi nyepuh diawali dengan pembukaan di halaman kantor desa. Semua warga mengenakan pakaian putih sebagai lambang penyucian diri.

Kemudian, warga berjalan kaki menuju makam KH Panghulu Gusti, di Situs Geger Emas. KH Penghulu merupakan tokoh penyebar Islam pertama di Desa Ciomas. Sambil berjalan, warga juga membacakan selawat.

Setelah sampai di kompleks pemakaman, warga mengambil air dari mata air Geger Emas untuk ziarah ke makam. Kemudian berjalan kembali menuju makam KH Panghulu Gusti untuk berdoa bersama. “Setelah proses doa selesai acara nyepuh, maka kami makan bersama tumpeng yang telah kami bawa sebelumnya, di hutan yang tidak jauh dari lokasi makam,” paparnya.

Tradisi makan tumpeng itu disebut nalekan. Selain makan nasi tumpeng, warga juga menanam pohon di sekitar gunung. Tujuannya untuk menjaga kelestarian alam.
Maya menjelaskan tradisi nyepuh berasal dari bahasa sepuh yang berarti orang tua.

Nyepuh sudah dilaksanakan warga Ciomas secara turun temurun. Pelaksanaannya sehari setelah Nisfu Sya’ban. Yakni, waktu dimana buku catatan amal manusia diganti dengan yang baru. “Jelas membuka lembaran baru itu harus diisi dengan kegiatan positif dan bermanfaat,” ungkapnya.

Kepala Desa Ciomas Yoyo Wahyono menuturkan tradisi nyepuh sudah dilaksanakan secara turun temurun. Sampai sekarang warga tetap memelihara tradisi itu. Dia berharap pemerintah memberi dukungan. Salah satunya dengan memasukan tradisi itu ke dalam agenda pariwisata.

“Harapan besar saya, ke depan bisa menjadi objek wisata juga, sehingga dikenal khalayak banyak. Karena, tradisi nyepuh ini adalah kebudayaan yang harus dilestarikan dan tetap dijaga dengan baik,” tuturnya. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.