Korban Banjir Bandang Culamega Masih Tinggal di Bilik Pengungsian

Jembatan Bailey Ditargetkan Bisa Dilalui Hari Ini

291

CIPATUJAH – Proses pembangunan jembatan bailey di Sungai Ciandum Kecamatan Cipatujah yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dan Garut sudah rampung. Ditargetkan hari ini (Rabu (12/12) jembatan tersebut bisa dilalui. Hal itu diungkapkan Kapolsek Cipatujah AKP Atang Rustandi saat dihubungi Radar, Selasa (11/12).

Kata dia, kondisi jembatan bailey sudah menyambung dari berbagai arah. Tapi untuk saat ini (kemarin) belum bisa dilalui kendaraan. Karena masih dalam tahap penyempurnaan dan finishing.

“Prosesnya tinggal membuat beton, kemudian jaring berisi batu dan diberi aspal agar jalan dengan jembatan bisa sejajar, aman dan kuat untuk dilalui kendaraan. Kira-kira (kemungkinan, Red) baru besok (Rabu (12/12)) bisa dilalui jembatan bailey-nya, kalau sekarang (kemarin) masih belum sempurna walaupun sudah menyambung,” paparnya.

Kata Atang, sebelum jembatan diresmikan masyarakat tidak boleh melintasinya. Untuk alternatif, masyarakat bisa menggunakan rakit yang disediakan oleh warga.

“Sejauh ini, walaupun jembatan belum bisa dilalui. Tapi warga masih beraktivitas seperti biasa dan perekonomiannya tetap berjalan,” paparnya.

Sementara itu, warga di Desa Bojongsari dan Desa Cikuya Kecamatan Culamega yang terkena dampak bencana banjir bandang serta tanah longsor masih setia berada di bilik pengungsian.

“Sekarang korban banjir bandang dan tanah longsor masih berada di bilik pengungsian atau rumah semi permanen yang terbuat dari kayu,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Tasikmalaya H Ria Supriana kepada Radar kemarin.

Jelas dia, jumlah pengungsi terus mengalami penurunan. Karena tidak sedikit yang kembali beraktivitas ke rumahnya masing-masing. Bahkan ada yang swadaya memperbaiki rumahnya.

“Kalau cuaca hujan, mereka berada di bilik pengungsian dan rumah kayu. Tapi kalau cuaca cerah, mereka pulang ke rumahnya yang sebelumnya terkena dampak bencana,” jelasnya.

Jelas dia, jumlah pengungsi hingga akhir November ini di Desa Cikuya 127 kepala keluarga (KK) dan di Desa Bojongsari 131 KK. Pada Desember ini berkurang mencapai puluhan kepala keluarga. Karena mereka kembali beraktivitas di rumahnya masing-masing.

“Mereka yang kembali tidak menetap di pengungsian karena takut ada longsor susulan. Sedangkan yang masih menetap di bilik pengungsian adalah korban yang rumahnya harus direlokasi karena berada di tebing rawan longsor,” terangnya.

Sedangkan soal relokasi permukiman, kata dia, masih dalam pembahasan antara BPBD, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) secara teknisnya.

“Jadi tempat untuk relokasi pun belum keluar secara resmi rekomendasi dari Badan Geologi. Baru hasil paparan ketika rapat koordinasi bahwa ada beberapa area yang terdampak bencana tidak layak ditempati dan harus direlokasi,” paparnya.

Terpisah, Kepala Desa Bojongsari Kecamatan Culamega Guruh Ivan Kurnawan mengungkapkan bahwa sebagian warganya masih ada yang mengungsi di tenda darurat kalau turun hujan. Namun jika cuaca cerah pindah ke rumah atau saudaranya.

“Ada sekitar 20 KK lagi yang berada di bilik pengungsian. Sementara ada delapan KK yang memilih bangun rumah semi permanen, tidak jauh dari pengungsian,” paparnya. (dik)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.