Jokowi : Baru 250 Ribu Tenaga Kesehatan Disuntik Vaksin

19
0
Presiden Joko Widodo berbinccang usai disuntik vaksin Covid-19 produksi Sinovac oleh Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Abdul Muthalib di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (13/1) lalu. (DOK. AGUS SUPARTO/SETPRES)
Loading...

Anggota DPR Minta Tenaga

Pendidik Ikut Diprioritaskan

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui jika sejak digulirkannya program vaksinasi, jumlah tenaga kesehatan yang sudah divaksinasi masih sangat rendah. Pasalnya sampai saat ini baru 250 ribu dosis vaksin yang disuntikkan kepada tenaga kesehatan dan perawat.

Atas kondisi tersebut, Jokowi pun meminta agar perlunya dilakukan evaluasi dan perbaikan di lapangan terkait pelaksaan vaksinasi tersebut. Sehingga nantinya target vaksinasi yang banyak bisa segera tercapai. “Ada manajemen lapangan yang perlu diperbaiki, (saat ini) memang baru sekitar 250 ribu untuk tenaga kesehatan,” ujar Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/1).

Dengan perbaikan manajemen lapangan tersebut diharapkan bisa mencapai 50 ribu dalam sehari suntikan vaksin kepada tenaga kesehatan tersebut. “Tetapi sehari dua hari, sudah melonjak cukup tajam, sehari bisa 50 ribu. Kita memiliki 30 ribu vaksinator, dan dengan kurang lebih 10 ribu puskesmas maupun 30 ribu rumah sakit. Kita harapkan sehari paling tidak 900 sampai 1 juta vaksinasi,” harapnya.

loading...

Jokowi  pun sudah memerintahkan kepada Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin untuk memperbaikin manajemen lapangan terkait vaksinasi Covid-19 yang masih rendah. “Tapi ini perlu waktu, bisa memenajemen waktu yang baik, selalu saya sampaikan terus kepada Menteri Kesehatan,” ungkapnya.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan bisa melakukan vaksinasi Covid-19 kepada 1,47 juta tenaga kesehatan. Vaksinasi Covid-19 sendiri baru bergulir lebih dari sepekan.

Sementara itu Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, vaksinasi kepada tenaga kesehatan, sangat penting dilakukan untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit, sehingga dapat mengurangi angka tenaga kesehatan yang meninggal.  Mengingat berdasarkan catatan pemerintah, saat ini Indonesia sudah kehilangan lebih dari 600 tenaga kesehatan yang gugur melawan Covid-19.

Di sisi lain kalangan DPR menganjurkan agar vaksin juga diprioritaskan tidak hanya kepada nakes tetapi juga untuk mereka yang berhadapan langsung dengan banyak orang. Salah satunya adalah tenaga pengajar atau guru.

Anggota komisi X Hetifah Sjaifudian menyatakan, guru perlu masuk jajaran yang diprioritaskan mendapat vaksin. Apalagi sejak akhir 2020, ada beberapa daerah yang sudah menjalankan kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka. ’’Di beberapa daerah, KBM sangat urgen karena minim fasilitas pendukung PJJ (pembelajaran jarak jauh),’’ jelas Hetifah.

Untuk sementara, beberapa daerah menunda pelaksanaan KBM tatap muka karena mendapat penolakan dari berbagai pihak. Baik orang tua maupun organisasi guru serta pengamat pendidikan. Namun, hal itu dikhususkan sekolah yang sarana-prasarananya memadai untuk PJJ.

Hetifah meyakini vaksinasi kepada tenaga pengajar akan mengurangi risiko penularan di lingkungan sekolah. Meski demikian, pembatasan murid yang mengikuti pembelajaran tatap muka juga perlu diterapkan.

Dia menambahkan, pemberian vaksin itu tidak terbatas pada guru berstatus PNS, tetapi juga yang berstatus honorer. Sebab, intensitas pertemuan dengan banyak orang sama tingginya. Untuk memastikan guru mana saja yang paling membutuhkan vaksin segera, Hetifah menyarankan ada kajian terhadap tingkat ancaman penularan di daerah yang bersangkutan. Tujuannya, pemberian vaksin tepat sasaran. (jp/red)

#Satgascovid19 #Ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun,

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.