Jokowi Beri Gelar Pahlawan Nasional ke Kakek Anies Baswedan

12

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Jakarta – Almarhum Abdurrahman Bawesdan dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan kakek dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Penganugerahan  Gelar Pahlawan Nasional ini, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 123/TK/TAHUN 2018 tanggal 6 November 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Almarhum Abdurrahman Bawesdan dinilai sebagai tokoh yang memperjuangkan integrasi keturunan Arab menjadi bangsa Indonesia.

Tokoh yang lahir 9 September 1908 di Surabaya dan besar di Yogyakarta ini, terlibat dalam dunia pergerakan dengan mengusung cita-cita mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Perjuangan Abdurrahaman Bawesdan ini dilakukan melalui dunia jurnalistik, dengan tulisan-tulisannya di surat kabar serta dalam kepartaian melalui Partai Arab Indonesia (PAI) dan juga menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Selain Almarhum Abdurrahman Bawesdan, terdapat 5 tokoh lainnya yang diberi gelar yang sama oleh Jokowi di Istana Negara, pada Kamis (8/11).

Diantaranya, Almarhum Agung Hajjah Andi Depu dari Provinsi Sulawesi Barat, Almarhum Depati Amir dari Provinsi Bangka Belitung, Almarhum Kasman Singodimejo dari Provinsi Jawa Tengah, Almarhum Ir H Pangeran Mohammad Noor dari Provinsi Kalimantan Selatan dan Almarhum Brigjen KH Syam’un dari Provinsi Banten.

Almarhum Agung Hajjah Andi Depu, adalah pelaku sejarah Indonesia dan merupakan sosok perempuan yang telah memberikan dedikasi serta loyalitas yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh perempuan dari Sulawesi Barat yang lahir pada 19 Agustus 1908 ini, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan menggerakkan dan mengkoordinasikan semangat para pemuda-pemudi untuk melawan penjajahan di Indonesia.

Almarhum Depati Amir merupakan tokoh pemimpin perlawanan melawan Belanda pada 1830-1851 yang berhasil menyertakan gabungan warga lokal dan komunitas “asing-pendatang” (penambang Tionghoa).

Tokoh pahlawan yang diusulkan masyarakat Provinsi Bangka Belitung ini telah menerapkan perlawanan dengan gerilya dengan Belanda selama 20 tahun.

Almarhum Kasman Singodimejo merupakan tokoh Muhammadiyah ini merupakan pemersatu bangsa, yakni saat proses pengesahan UUD 1945, tepatnya rapat PPKI meluluhkan hati tokoh golongan Islam Ki Bagus Hadikusumo untuk menghilangkan tujuh kata terkait syariat Islam dalam sila pertama Pancasila, yakni “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Tujuh kalimat ini karena mendapat penolakan dari perwakilan Indonesia bagian timur jika tujuh kata tersebut tetap dipertahankan.

Almarhum Ir H Pangeran Mohammad Noor adalah tokoh yang telah berjuang bersama-sama rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan sejak kuliah di THS Bandung hingga terlibat menjadi anggota “Jong Islamieten Bond”.

Sebagai Gubernur Kalimantan yang berkedudukan di Yogyakarta, Mohammad Noor melakukan pelatihan militer kepada para pemuda untuk diterjunkan ke medan perang melawan Belanda di Kalimantan.

Sementara almarhum Brigjen KH Syam’un adalah tokoh yang berjuang melalui pendekatan pendidikan (mendirikan pesantren) dan mengangkat senjata melawan Belanda, yakni masuk jadi anggota PETA, Panglima BKR dan TKR. (Ant/fin)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.