Jumlah Penyamak Kulit Terus Menurun

12

GARUT KOTA – Jumlah pengusaha penyamak kulit di wilayah Sukaregang Kecamatan Garut Kota terus mengalami penurunan. Hal itu diduga karena adanya protes dari warga setempat terkait dampak limbah cair bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan dari proses penyamakan.

“Protes masyarakat kian kencang, jadi para penyamak banyak yang berhenti operasi,” ujar Pengurus Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Garut Sukandar kepada wartawan Kamis (10/1).

Pengusaha yang berhenti operasi kebanyakan dari tingkat menengah ke bawah. Hal itu karena para penyamak tingkat menengah ke bawah belum memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

“Hampir sebagian besar perusahaan penyamak kulit menengah ke bawah ini tidak punya IPAL. Jadi buangnya langsung ke sungai,” ujarnya.

Dia menerangkan jumlah pengusaha penyamak kulit berskala kecil dan menengah di wilayah Sukaregang awalnya berjumlah 400 pengusaha. Tetapi setelah adanya protes berkelanjutan dari masyarakat, jumlahnya hingga saat ini tinggal 220. “Secara perlahan pengusaha terus berguguran, karena masalah IPAL,” katanya.

Selain terkendala masalah IPAL, kata dia, terus berkurangnya jumlah penyamak kulit berskala kecil dan menengah akibat faktor lain, salah satunya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Sebab hampir 80 persen bahan baku atau obat-obatan kimia untuk proses penyamakan kulit produk impor. “Ini sangat memberatkan para pengusaha kecil-menengah sehingga banyak yang gulung tikar,” terangnya. (yna)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.