Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Jurnalis Itu Ibarat Seperti Dokter

19
0
BERI MATERI. Sekred Radar Tasikmalaya Tina Agustina memberikan materi saat Diklat Nasional Jurnalistik yang diselenggarakan UKM Jurnalistik Universitas Perjuangan (Unper), kemarin (5/10). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA
BERI MATERI. Sekred Radar Tasikmalaya Tina Agustina memberikan materi saat Diklat Nasional Jurnalistik yang diselenggarakan UKM Jurnalistik Universitas Perjuangan (Unper), kemarin (5/10). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA

TAWANG – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya menggelar diklat nasional tentang kejurnalistikan dengan tema menumbuhkan jiwa kekeluargaan, kepemimpinan dan perubahan di kampusnya, Sabtu (5/10).

Dalam diklat tersebut menghadirkan pemateri dari Guru Besar Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Siliwangi (Unsil) Prof DR H Dedi Heryadi MPd, Pembina UKM Jurnalistik Dudu Risana (Redaktur Kabar Priangan), Iskandar (Koropak.com) dan Tina Agustina (Sekred Radar Tasikmalaya Koran).

Ketua Pelaksana Diklat Nasional Jurnalistik dari UKM Jurnalistik Unper Ramdani Alfalah menjelaskan kegiatan diklat ini perdana diselenggarakan oleh UKM Jurnalistik Unper dengan mengundang beberapa pemateri dari pelaku media.

“Ini kali pertama acara diklat nasional tentang jurnalistik. Kita sengaja melaksanakannya untuk menambah wawasan dan pengetahuan anggota UKM dan peserta diklat tentang kejurnalistikan,” terang Ramdani kepada Radar di Unper, kemarin.

Dalam acara diklat ini, jelas dia, ada sekitar 50 orang peserta baik dari anggota UKM Jurnalistik Unper, tamu undangan dan peserta atau mahasiswa dari Unsil.

“Yang diharapkan lewat diklat jurnalistik ini, bisa menambah bekal pengetahuan buat UKM Jurnalistik, baik dari cara pembuatan dan penulisan berita yang baik dan fakta, peliputan, kode etik jurnalis dan lainnya,” ungkap dia.

Pemateri sekaligus Pembina UKM Jurnalistik Unper Dudu Risana mengatakan materi lebih ditekankan ke teknis cara pembuatan berita yang benar, dengan mengacu kepada 5W+1H (What,Who, Where, When, Why+How).

“Sebagai kunci agar sebuah berita itu jelas tidak hoaks. Seperti tidak ada sumbernya, tidak jelas tempat, kejadian dan waktunya. Kami sebagai pemateri ingin peserta membuka wawasan agar berita itu harus memenuhi kode etik jurnalistik yang benar. Jangan sampai membuat berita bohong,” jelasnya.

Peserta atau mahasiswa yang ada di UKM Jurnalistik ini, jelas dia, bisa merealisasikan ilmu yang didapatkan lewat seminar, pelatihan atau diklat jurnalistik dengan belajar membuat sebuah peliputan berita.

“Tak harus jauh, di lingkup kampus banyak kegiatan setiap prodi, fakultas dan universitas juga UKM. Termasuk prestasi akademik dan non akemidk universitas bisa di ekspose. Nanti bisa disampaikan lewat media sosial,” kata dia.

Dudu berpesan kunci untuk bisa menjadi seorang jurnalistik ada tiga. Pertama harus siap kerja 24 jam karena profesi sebagai jurnalis itu sama seperti dokter dan bidan. Kemudian harus pandai bergaul mencari relasi dan jaringan. Dan terakhir terus menambah pengetahuan jurnalistik baik lewat pelatihan atau membaca buku dan lainnya.

Peserta diklat nasional jurnalistik Elanda Rahman Firdaus (20) mengaku dari kegiatan ini mendapatkan lebih banyak pengetahuan dalam bidang jurnalistik. Baik dalam cara menulis berita hingga teknis peliputan sesuai kode etik jurnalis.

“Saya tertarik untuk belajar menulis berita, mudah-mudahan ilmu yang didapatkan dalam diklat ini bisa menjadi bekal ketika saya membuat tulisan,” ungkapnya. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.