Kader PDIP & FokopimcamKarangpawitan Garut Perbaiki Gubuk Mirip Kandang Hewan Milik Janda Tua Sebatang Kara

42
0
BERI MOTIVASI. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengunjungi pengrajin batik Sabtu (11/7).

TAROGONG KIDUL – Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) berkomitmen untuk mendorong kebangkitan ekonomi di Kabupaten Garut.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, akibat pandemi Covid-19 ini, berbagai sektor usaha lumpuh, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Baca juga : Gelapkan Raskin, Mantan Kades di Garut Masuk Bui

Berdasarkan data OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), setelah September 2020 diperkirakan separuh dari pelaku UMKM di Indonesia akan gulung tikar akibat pandemi tersebut.

”Untuk antisipasinya, kita akan bantu supaya UMKM yang ada di Indonesia khususnya di Garut bisa bergeliat kembali di masa pandemi ini,” ujar Teten di Hotel Harmoni Garut, Sabtu (11/7).

Menurut dia, salah satu upaya supaya menggeliatkan kembali UMKM yakni menurunkan sejumlah program.

Selain itu, kebijakan pemulihan ekonomi nasional mulai digelontorkan pemerintah untuk membantu para UMKM.

”Pemerintah sediakan restrukturisasi pinjaman, subsidi bunga dan pajak, serta modal kerja baru yang lebih murah bagi para UMKM,” katanya.

Saat ini pemerintah mendorong agar kegiatan usaha bisa kembali dilakukan. Tak mungkin para pengusaha terus mengisolasi diri karena akan berdampak berat terhadap keberlangsungan ekonomi.

”Mudah-mudahan tak bertambah trennya (penurunan ekonomi UMKM). Makanya kami keliling ke berbagai daerah untuk segera direaktifasi kegiatan usaha,” ucapnya.

Teten berpesan agar para pengusaha bisa segera memulai kembali operasional usaha. Menurutnya, saat ini sektor usaha yang terhubung dengan platform digital dan e-commerce jadi salah satu yang bisa bertahan.

Selain itu, UMKM yang bisa melakukan adaptasi bisnis dan inovasi produk selama pandemi. Seperti produk makanan dan minuman, alat kesehatan dan olahraga hingga hiburan.

“Ke depan kami ingin UMKM siap dengan kultur baru dari pasar yang memungkinkan senang belanja online. Cuma untuk masuk ke online tak sekadar terhubung karena saingan dengan brand besar,” ujarnya.

Sementara itu, Pemilik PT Tama Cokelat Indonesia Kiki Gumelar, mengaku jika usahanya sempat jatuh selama masa pandemi. Pada bulan April, penjualannya hampir nihil karena adanya pandemi Covid-19.

“Bulan Maret mulai ada penurunan, April hampir benar-benar nol. Mei baru bisa jual produk karena ada momentum hari raya. Di bulan Juli ini kami baru bisa produksi lagi,” katanya.

Baca juga : Ditahan Kejaksaan, Kadispora Garut Segera Diganti

Tantangan paling besar saat pandemi selain penurunan daya beli juga sulitnya mendistribusikan barang. Namun perlahan masalah itu kini bisa teratasi.

Kiki juga melakukan inovasi agar usahanya bisa bertahan. Ia memilih menjual produk yang bisa dikonsumsi harian. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.