Kalah Bersaing & Modal Besar, Puluhan Peternak Ayam Rakyat di Ciamis Bangkrut

375
1
KOSONG. Peternak ayam saat membersihkan tempat pakan dan minum ayam di kandang milik mereka di Desa Sukasetia Kecamatan Cihaurbeuti Selasa (4/2). Mereka kini bangkrut. IMAN S RAHMAN / RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Peternak ayam rakyat di Desa Sukasetia Kecamatan Cihaurbeuti mengalami masalah. Sebagian dari mereka bangkrut, karena kalah bersaing dengan peternakan modern dan canggih.

Pantauan Radar, Selasa (4/2) sekitar pukul 09.00, Rusaf Diana Sufyan (30) tidak lagi beternak ayam. Padahal, warga Dusun Cinangka RT 04/07 Desa Sukasetia sudah beternak ayam sejak 2007. Sebagai peternakan ayam rakyat, dia kala itu memiliki 1500 ayam. Modal yang dia keluarkan Rp 60 juta.

Baca juga : Damkar Ciamis Berhasil “Jinakan” Cincin Stainles di Jari Manis Santri

Rusaf mengalami masa-masa menyenangkan saat beternak ayam pedaging kala itu. Harga jual stabil. Namun mulai 2017, dia merasakan masalah. Pakan ayam mulai dilarang menggunakan antibiotik. Mulai saat itu memang ada larangan pakan ayam mengandung antibiotik.

Namun, para peternak ayam menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Meski demikian, dia tidak menjelaskan solusinya itu. Bisnis peternakan ayam daging pun bisa normal lagi.

Memasuki 2018, para peternak ayam rakyat mengalami masalah. Harga jual ayam murah. Saat itu dari harga per kilogramnya Rp 20.000 di kandang menjadi Rp 7.000 per kg.

“Karena harga yang memang rusak di tatanan peternak dan tidak stabil, serta harga pakan tetap Rp 8.000 per kg, sementara harga ayam murah saya pada bulan Agustus 2018 berhenti jadi peternak ayam,” ucap bapak anak satu itu.

Saat ini, dia bertekad mau beternak ayam lagi. Dia tadinya mau bergabung dengan mitra atau perusahaan besar penyedia ayam dan pakan. Namun persyaratan mitra itu kandangnya harus modern.

Dulu, kata dia, saat bermitra dengan perusahaan besar, masih bisa menggunakan kandang bambu. Namun sejak 2019 sampai 2020, hal itu sudah tidak bisa lagi. Peternak, seperti dia harus memiliki kandang ayam modern: menggunakan kipas dan pakai sistem komputerisasi.

Baca juga : Wabah Corona, Kelelawar di Situ Panjalu Ciamis Diperiksa, Ini Hasilnya

Kandang tersebut bisa menampung ayam sampai 6.000 ekor. Kotoran ayam juga di dalamnya langsung kering dan tidak berbau. Untuk membuat kandang seperti itu, dia harus menganggarkan sekitar Rp 500 juta untuk satu kandang.

“Makanya saya sebagai peternak bukan modern jadi bangkrut, karena tidak mampu harus modal sampai ratusan juga, saya mampu juga modal Rp 60 juta itu juga spekulasi minjam ke bank,” tuturnya.

Setelah tidak lagi beternak ayam, dia kini menjadi tukang roti, karena modal membuat kandang ayam modern jelas tidak mampu.

Menurutnya, nasib peternak ayam yang sama dengannya mencapai sekitar 40 peternak. Mereka semua bangkrut.
“Semua kandang telah dikosongkan nunggu sampai roboh saja,” ujarnya.

Dia dan teman-temannya berharap pemerintah turun tangan. Jangan sampai peternak ayam rakyat dilupakan. Mereka butuh suntikan dana agar kembali berjaya.
“Harapan saya bisa ada perhatian pemerintah, “ tuturnya. (isr)

loading...

1 KOMENTAR

  1. Kenapa sarat buat ikut kemitraan kandng hrs modern….yg penting punya pengalaman walau kandang cuma dri bambbu bisa menghasilkan ayam yg sht…..dan paling utama masa broding hrus bner” ttp aj kandang modern kalau yg menjlnkn nya g ad pwngalaman…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.