Kalkulasi dan Spekulasi Politik

221
0
Oleh Asep M Tamam

EKSPRESI manusia terhadap politik bermacam-macam. Ada yang cinta dan gila, ada yang setengah suka, ada yang acuh, juga ada yang benci. Segenap lapisan masyarakat, hingga para ulama, akademisi, dan segala profesi, terpolarisasi ke satu di antara kategori-kategori itu.

Ekspresi politik ini berangkat dari rasa dan logika; dua bekal utama berpolitik. Rasa dalam berpolitik menumbuhkan cinta dan benci, fanatisme atau sebaliknya, ekstremisme. Sementara logika dalam berpolitik lebih membawa masyarakat untuk melihat politik tak sekadar bagaimana menyukai atau membenci, tapi juga bagaimana menjadi bagian untuk mengetahui, memahami, mengkritisi, meluruskan, bahkan hingga berjuang untuk mendukung atau untuk melawan.

Dari luar arena, perasaan kita sebagai anggota masyarakat sering diaduk dan dibuat tak menentu oleh para politisi. Keputusan politik para pemimpin dalam menghadapi perkembangan kehidupan di negara kita seringkali tak menentu. Gerak dan langkah para politisi, dalam segala skalanya, sering tak beraturan dan tak seirama dengan ekspektasi kita. Keputusan politik para pemimpin yang demikian muncul dan berawal dari “ijtihad” politik di antara kalkulasi dan spekulasi.

IDEALITAS DAN REALITAS

Sejatinya, orang yang berpolitik memiliki jiwa keagamaan yang kuat. Kenapa demikian? Mereka yang berpolitik bukan sekadar menunggu dan mencari nasib. Lebih jauhnya, mereka yang berpolitik mencari jalan dan berjuang menuju takdir yang sudah dicatat dalam buku-Nya. Mereka meyakini bahwa takdir harus diupayakan. Semua orang tak boleh menyerah. Orang yang berpolitik juga mestinya memahami bahwa hidup adalah realitas. Untuk menuju realitas ideal, kuncinya adalah kerja keras dan semangat pantang kendur.

Sejatinya, orang yang berpolitik juga memahami, menghayati, dan melaksanakan berbagai aturan dan hukum yang berlaku. Bukankah aturan dan hukum sebuah negara dirumuskan oleh para politisi; eksekutif bersama legislatif? Bukankah segala keputusan dan kebijakan politik harus berdasar dan mengacu pada aturan baku yang telah ditetapkan? Bukankah keadilan dan keseimbangan kehidupan harus diawali oleh tunduknya semua elemen negara pada aturan dan hukum yang berlaku?

Politik sebagai ilmu, seni dan praktik menuju terciptanya kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat, dan kehidupan negara yang lebih baik, pada realitasnya selalu berubah dan berkembang. Keputusan politik kadang jelas memperlihatkan keberpihakan terhadap kepentingan publik. Di kesempatan lain, terasa benar keputusan politik mengacu kepada kepentingan pribadi, golongan atau kelompok tertentu. Di titik inilah sejarah politik telah mencipta pribadi dan karakter yang berbeda. Ada politikus yang selalu berpikir menang kalah, mencari dan memperjuangkan keuntungan pribadi dan kepentingan subjektif. Ada juga negarawan yang selalu mengarahkan visi, misi, dan kerja politiknya untuk kepentingan objektif; kepentingan masyarakat di atas segalanya.

KALKULASI DAN SPEKULASI

Di semua levelnya, keputusan politik tak bisa dilepaskan dari kalkulasi dan spekulasi. Sebagai netizen, atau masyarakat biasa yang berada di luar arena politik, sering kali kita jengkel dengan perilaku politisi. Dalam hal ini terutama kepala daerah atau kepala negara, yang sering terkesan plinplan dan lama memutuskan pilihan kebijakan politiknya. Sering kali kita menyalahkan sikap demikian. Dalam konteks menuju penentuan pasangan calon kepala daerah, atau kepala negara, sering kali kita mempertanyakan hasil “ijtihad” politik para pemimpin di atas dengan pertanyaan kenapa dan untuk apa. Apa yang menjadi pertanyaan itu sering diungkapkan di diskusi pinggir jalan dan warung kopi, atau di status media sosial seperti di grup-grup WhatsApp dan di grup-grup Facebook.

Pada realitasnya, variabel dalam menentukan pilihan politik para pemimpin politik sangatlah kompleks. Makanya, penentuan memilih pasangan dalam konteks pemilihan kepala daerah dan kepala negara sering ditentukan di injury time ketika waktu sudah benar-benar mepet. Tak ayal, setiap keputusan politik pasti menuai pro dan kontra, terutama di level pemilih akar rumput. Di alam demokrasi, penentuan pilihan politik warga sering berubah karena tidak puas dengan keputusan politik para penentu di tingkat pusat. Di tingkat politisi partai, fatsun politik menjadi patron kendali. Jika partai sudah menentukan A, maka dari atas hingga ke bawah harus patuh dan memperjuangkannya.

“Ijtihad” dalam politik adalah bentuk dari kalkulasi dan spekulasi politik. Kalkulasi berarti menghitung dengan segala pertimbangan dan menyimpulkan pilihan mana yang lebih memungkinkan untuk ditetapkan. Ilmu, teori, pendapat para ahli, dan hasil polling dan survei sering dijadikan acuan. Sementara spekulasi memberi arti bahwa seringkali berhitung dan menyimpulkan pilihan jatuh pada kesimpulan salah dalam dunia politik yang dipenuhi unsur probabilitas. Spekulasi meniscayakan kepercayaan diri yang kuat dan keberanian yang mapan untuk menentukan satu di antara beberapa pilihan yang harus ditentukan. Watak politik berada di antara kalkulasi dan spekulasi.

Pemimpin yang terlalu berkalkulasi sering terlihat gamang. Sementara pemimpin yang hanya mengandalkan spekulasi sering meremehkan masalah penting. Perpaduan di antara keduanya akan menghasilkan pemimpin yang cerdas, inovatif, dan luwes. (*)

** Pengamat sosial, politik, dan pemerintahan Tasikmalaya

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.