Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.8%

8.8%

2.4%

26.3%

2.6%

49.9%

0.1%

9.1%

0%

Di Ciamis, Nenek Renta Miskin ini Tak Tersentuh Bantuan

242
0
HARUS DIBANTU. Kalmah (75) saat di rumahnya di Dusun Ciloganti RT 25/08 Desa Panarangan Kecamatan Cikoneng Jumat (15/11). Dia belum menerima bantuan. IMAN S RAHMAN / RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Kalmah sudah sepuh. Usianya 75 tahun. Suaminya sudah meninggal. Sehari-hari dia tidak usaha.

Untuk makan, dia ngutang ke tetangganya. Kerap juga dia diberi makanan oleh tetangganya.

Kedua anaknya telah menikah. Elon (35) dan Ihin (30), dua anak Kalmah sehari-hari menjadi buruh di pabrik kerupuk di Sumedang.

Rumah keduanya berdekatan dengan Kalmah. Saat mereka pulang, utang Kalmah ke warung, mereka bayar. Itu pun sekemampuan mereka.

“Makanya saya hidup seadanya Pak. Sama sekali tidak bekerja, kadang dikasih orang atau sering ngehutang dulu ke warung nanti anak yang bayar,” jelas Kalmah saat ditemui Radar di rumahnya di Dusun Ciloganti RT 25/08 Desa Panarangan Kecamatan Cikoneng.

Saat ditemui Radar, dia tengah di pinggir rumahnya. Dia sedang mengupas singkong dan talas untuk dijadikan makanan.

Di rumah bertepi bilik dan kayu itu, Kalmah tinggal sendirian. Rumah itu tampak sudah lapuk. Biliknya bolong-bolong.

Sampai saat ini, Kalmah belum mendapatkan bantuan dari program pemerintah. Termasuk saat sakit sesak napas, dia harus membayar. Itu karena Kalmah tidak mempunyai kartu Indonesia sehat.

“Jadi sama sekali saya tidak dapat bantuan pemerintah, sedangkan orang lain yang punya motor dapat bantuan, sementara saya bantuan gratis kesehatan saja tidak punya,” akunya.

Eti (35), tetangga Kalmah menyebutkan bahwa Kalmah hidup sendirian dan miskin. Kalmah seringkali nganjuk saat ke warungnya. “Sampai Rp 150 rebu, nanti yang bayarnya anaknya,” ujarnya.

“Saya kasihan kepada Kalmah. Bahkan rumahnya juga sudah tidak layak huni dan nyaris ambruk,” kisahnya.

Ketua RT 25 Enang membenarkan bahwa Kalmah itu warga miskin dan tidak pernah mendapatkan bantuan program-program pemerintah.

Padahal, kata dia, pihaknya secara maksimal telah melakukan pendataan, namun tetap saja Kalmah belum mendapatkan bantuan sampai sekarang.

Tak hanya Kalmah, dua adiknya juga, Saomah (70) dan Suah (60) juga janda dan miskin. Mereka pun belum tersentuh bantuan pemerintah.

Di luar mereka masih ada Ocoh (70) dan Halimah (65). Sama. Mereka janda dan belum mendapatkan bantuan.

“Bukan hanya orang lain, anaknya saya, Mimin (35) suaminya bernama Obi (36) yang kerjanya hanya buruh dan punya anak satu bernama Ihsan yang baru kelas 1 SD, tidak dapat bantuan pemerintah seperti PKH,” kata Enang.

Enang mengaku heran. Warga yang memiliki kendaraan dan skala ekonominya lebih dari Mimin dan Obi masuk ke dalam daftar penerima bantuan.

“Upaya saya sebagai RT secara maksimal sudah mendata. Semoga saja yang tidak mampu di sini dapat perhatian pemerintah,” ujarnya berharap. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.