Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.8%

7.3%

69.7%

Kampung Bendera di Leles Garut, 17 Agustusan di Masa Covid-19, Produksi Berkurang

76
0
MENJAHIT. Sejumlah karyawan membuat bendera di Kecamatan Leles. Tahun ini, produksi bendera di Kampung Bendera berkurang. yana taryana / rakyat garut

Memasuki bulan Agustus, masyarakat di Kecamatan Leles memproduksi bendera untuk dijual. Tetapi di masa pandemi Covid-19, tidak ada keramaian produksi di wilayah yang dikenal Kampung Bendera ini.

Yana Taryana, Leles

Kecamatan Leles dikenal sebagai Kampung Bendera sejak puluhan tahun lalu. Mendekati bulan Agustus, jadi bulan yang dinanti warga di Leles.

Baca juga : Pengedar Sabu Jaringan Perempuan Diringkus Polres Garut Usai Pesta

Biasanya mereka mengeruk keuntungan besar karena bendera produksi Leles bisa berkibar di seantero penjuru tanah air. Tak hanya memproduksi bendera, warga Leles langsung menjualnya ke seluruh Indonesia.

Namun tahun ini dirasa berbeda karena adanya pandemi Covid-19. Banyak perajin bendera mengurangi jumlah produksi karena memprediksi daya beli masyarakat akan berkurang.

Ada juga perajin yang tak berani mengambil risiko, sehingga tak memproduksi bendera. Akibatnya, salah satu mata pencaharian warga Leles pun berkurang.

Salah satu sentranya produksi bendera ada di Kampung Pangkurisan RT 1/1 Desa Salamnunggal.

Aji Juhana (45), masih beruntung bisa menjual bendera yang sudah diproduksinya sejak September 2019. Namun jumlah produksinya merosot hingga 50 persen akibat dampak Covid-19.

“Biasanya dari September sampai April itu saya produksi 2000 kodi. Dari April sampai Agustus bisa produksi tiga kali lipatnya. Cuma karena Covid, sejak April saya tidak produksi,” ujar Aji ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya, Sabtu (8/8).

Ini jadi yang pertama Aji harus menghentikan produksi sejak memulai usaha pembuatan bendera pada 2012. B

ahkan sejak April, Aji harus merumahkan 40 pegawainya. Ia mengaku tak tega harus merumahkan karyawannya hingga tiga bulan.

Ia baru kembali memulai produksi bendera pada Juli. Aji memberanikan diri meski waswas barang dagangannya tak ada yang membeli. Aji beruntung, 2000 kodi bendera yang dibuatnya kini sudah diburu pembeli.

Ia juga mengirim bendera ke Aceh, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. “Biasanya akhir Juli itu, sudah enggak ada barang di sini. Beda sama sekarang yang masih ada,” ucapnya.

Pandemi Covid-19, diakui Aji tak jadi alasan untuk tak berusaha. Ia menilai wajar jika usaha yang digelutinya itu pasang surut. Paling penting bagi dirinya, bendera dari Leles bisa berkibar.

“Yang penting merah putih berkibar, jangan sampai hilang Pancasila,” ucap Aji.

Menurut Aji, rekannya sesama pengusaha bendera ada yang tak memproduksi bendera. Mereka takut bendera tak laku dijual. Selain itu, mereka kesulitan mencari modal.

Padahal biasanya, perputaran uang di Leles dari produksi bendera mencapai miliaran rupiah.

“Kerasa sama industri kecil dampak dari ekonomi saat Covid ini. Padahal pinjam modal itu biasanya enggak susah dan mengembalikannya juga cepat. Sekarang cari modal susahnya minta ampun,” katanya.

Aji menyebut bahan baku kain bendera juga tak mengalami kenaikan. Harga jual bendera masih bisa stabil. Bendera ukuran terkecil yakni 90×60 sentimeter ia jual seharga Rp 10 ribu.

Ukuran menengah 120×90 sentimeter Rp 20 ribu dan terbesar 180×110 sentimeter seharga Rp 50 ribu. Ada juga background bendera berukuran delapan meter yang dijual Rp 150 ribu.

“Cuma tetap masih ada yang tawar. Saya juga enggak bisa kasih harga murah karena bahan bakunya kan sulit. Kalau murah kasihan pegawai saya. Apalagi baru sebulanan mereka kerja lagi,” ujarnya.

Aji menambahkan 90 persen warga Leles kerap menjual bendera menjelang hari kemerdekaan. Tapi tahun ini, banyak yang mengundurkan niat berjualan karena segudang syarat yang harus dipenuhi.

Mulai dari harus menjalani rapid test, surat keterangan sehat hingga surat jalan dari desa. Untuk rapid test saja, harus mengeluarkan uang hingga Rp 600 ribu.

“Banyak kejadian sudah rapid test dan syarat lain lengkap, tapi saat sampai lokasi jualan tidak diterima. Ada yang pilih pulang, ada yang cari daerah lain untuk jualan bendera,” katanya.

Aji dan para perajin bendera di Leles berharap pandemi bisa segera berakhir. Bendera merah putih juga tetap harus dikibarkan sebagai penghargaan bangsa kepada para pahlawan kemerdekaan.

“Bukannya saya ingin bendera buatan saya laku dijual. Tapi bendera ini jadi salah satu kebanggaan dan penghargaan kepada pendahulu kita,” ucapnya.

Kepala Desa Leles Tony Triswandi mengatakan perputaran uang dari usaha bendera di Leles bisa mencapai miliaran rupiah. Para pengusaha bendera di Leles bisa berinvestasi ke usahanya di atas Rp 3 miliar.

“Cuma tahun ini berkurang drastis sampai 50 persen. Ada yang untuk modal itu bisa gadaikan rumah. Bahkan pinjam ke bank keliling yang bunganya sampai 30 persen. Tapi bisa bayar dan tetap punya keuntungan,” katanya.

Menurutnya, di masa pandemi usaha bendera merosot tajam. Ribuan warga yang biasanya pergi merantau ke luar kota untuk menjual bendera, banyak yang mengurungkan diri. Dari data di desa, hanya ada 150 warga Desa Leles yang pergi berjualan bendera.

“Data itu didapat karena mereka pergi ke luar daerah harus punya surat jalan. Yang bikin hanya 150 orang. Padahal bisa sampai 1.000 lebih tahun lalu itu,” ucapnya.

Penjual bendera asal Leles yang datang berjualan ke satu daerah juga ada yang tak diterima. Selain itu, ada juga yang harus menjalani karantina sebelum bisa beraktivitas.

Hal itu membuat banyak orang yang tak jadi pergi mencari nafkah dari berjualan bendera. Padahal, menjual bendera jadi salah satu ladang yang dinanti warga di Leles setiap tahunnya.

Baca juga : Warga Tak Pake Masker, Pemkab Garut tak Keluarkan Sanksi, Tapi..

“Bos-bos bendera juga banyak yang enggak menjahit sekarang ini. Takut tidak terjual barangnya. Dulu itu bisa ribuan rol, sekarang tidak,” ujarnya.

Tony yang juga sempat berjualan bendera hingga ke Kalimantan selama 4 tahun itu mengaku tahun ini sangat berat bagi para penjual bendera. Meski di tengah pandemi, mereka tetap nekat pergi untuk bisa mendapatkan penghasilan. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.