3 Brasil vs Peru 1

Kandang Keramat Tim Samba

22
0
twitter SELEBRASI. Pemain Brasil selebrasi usai memenangi Copa America 2019, kemarin.

RIO DE JANEIRO – Brasil menjadi kampiun Copa America 2019 setelah mengalahkan Peru di partai final. Sekali lagi, Selecao membuktikan kandang mereka tetap keramat setiap kali menjadi tuan rumah turnamen.

Untuk kali kelima dalam sejarah Copa America, Brasil meraih gelar sebagai tuan rumah. Trofi tertinggi turnamen empat tahunan ini diraih Tim Samba setelah menang 3-1 atas Peru di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, dini hari kemarin.

Bermain di hadapan 70 ribu penonton termasuk Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, anak asuh Tite memulai pesta juara lewat gol Everton di menit ke-15. Sempat disamakan Peru melalui penalti Jose Paolo Guerrero di menit ke-43, Gabriel Jesus kemudian membawa Brasil kembali memimpin di injury time.

Brasil yang harus bermain dengan sepuluh orang setelah Jesus dikartu merah di menit ke-70 memastikan kemenangan 3-1 mereka di menit ke-90. Gol ketiga ini dilesakkan Richarlison lewat titik penalti setelah Carlos Zambrano mendorong Everton di kotak terlarang.

Ini adalah gelar kesembilan Brasil di Copa America. Empat dari delapan gelar itu mereka dapatkan saat berstatus tuan rumah, yakni pada 1919, 1922, 1949, dan 1989 ketika Romrio mencetak gol kemenangan melawan Uruguay di Maracana.

Setelah memimpin Brasil meraih trofi di kandang, Tite menjadi manajer pertama yang memenangkan Copa America, Copa Libertadores dan Copa Sudamericana. Sang kapten, Dani Alves, yang terpilih sebagai pemain terbaik turnamen, memuji pelatih Selecao itu.

“Kapten kapal kami adalah Tite. Selamat untuk kami dan untuk orang-orang kami. Saya ulangi, selamat untuk staf kami. Bermain di Maracana selalu sangat istimewa. Ini adalah rumah kita,” kata Alves di Goal.

Alves menegaskan bahwa komentar kapten Argentina, Lionel Messi, bahwa Brasil sengaja di setting menjadi juara Copa America edisi ke-46 ini sama sekali tidak benar. Mantan pemain Barcelona itu mengatakan, mereka menjadi jawara karena kerja keras sepanjang turnamen.

“Saya tidak setuju dengan apa yang dikatakan Messi. Kami banyak berkeringat. Saya bisa mengerti kalau Messi kesal, tetapi saya tidak setuju kalau itu diatur,” tegasnya.

Tite yang sempat mendapat ancaman pemecatan memuji Everton. Bagi dia, tidak ada yang akan menyangka Everton bisa dinobatkan sebagai man of the match. “Siapa yang mengira Everton akan bermain di final dan akan dinobatkan sebagai pemain terbaik,” ujar Tite.

Pelatih Peru, Ricardo Gareca, mengakui Brasil sangat pantas menjadi juara. “Itu adil. Mereka memanfaatkan peluang. Kami datang ke sini berharap untuk menang, tetapi mereka sangat efektif,” kata Gareca di ESPN.

Namun, ia menegaskan bahwa usaha skuadnya sudah maksimal. Ia bahkan mengatakan cara timnya bermain di final memberinya perasaan puas melampaui rasa sakit dari kekalahan yang mereka derita. “Saya pikir kita berada di jalan yang benar, itulah perasaan yang saya miliki,” tegasnya. (amr/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.