Kantor PCNU Dijaga

245
0

Di saat bersamaan, aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya mulai dari PMII, IPNU, Resimen Santri (Resant) serta santri dari berbagai pesantren melakukan aksi di depan Kantor PCNU di Jalan dr Soekardjo Kota Tasikmalaya. Mereka melakukan orasi, salawatan serta doa bersama untuk persatuan bangsa.

Ketua PC NU Kota Tasikmalaya KH Ate Musodiq mengatakan aksi yang dilakukan oleh santri dan aktivis NU lebih kepada menjaga Kantor Sekretariat PCNU.

“Aksi ini untuk mengantisipasi apa yang terjadi di daerah lain di mana markas NU digeruduk,” ungkapnya kepada Radar, Rabu (24/10).

Menurutnya, saat ini NU sebagai organisasi Islam yang menjaga NKRI mendapat perlawanan dari organisasi HTI. Pasca insiden pembakaran bendera HTI di Garut. “Lafaz La Ilaha Illallah itu bukan untuk dikibarkan di jalan, tapi untuk dibaca di masjid, di pesantren dan dikaji,” tuturnya.

Massa dari ke dua belah pihak sempat memanas, di mana sebagian massa dari Sekretariat NU bergerak menuju Masjid Agung. Begitu pun massa Al-Mumtaz yang sudah merapatkan barisan di kawasan batu andesit.

Pasukan dari TNI dan Polri langsung menghadang massa dari ke dua arah dan meminta untuk mundur. Hingga aparat berhasil meredam massa dari kedua belah pihak yang secara berangsur membubarkan diri.

Terpisah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai anggota Banser yang melakukan pembakaran bendera merupakan korban dari upaya provokasi dan infiltrasi secara sistematis terhadap peringatan Hari Santri Nasional 2018.

Sebab, PBNU menemukan ada satu truk lebih bendera HTI yang siap dikibarkan di beberapa daerah di Jawa Barat. Bahkan sebagiannya telah berkibar.

“Berdasarkan laporan Tim Pencari Fakta yang dibentuk PBNU, pengibaran dan pemasangan bendera HTI di tempat Apel Hari Santri Nasional 2018 terjadi di hampir seluruh Wilayah Jawa Barat. Seperti Sumedang, Kuningan, Ciamis, Banjar, Bandung, Tasikmalaya,” kata Ketua PBNU Said KH Aqil Siradj dalam jumpa pers di Gedung PBNU Kramat Jakarta Pusat, Rabu (24/10).

Menurut KH Aqil, di sejumlah tempat bendera HTI berhasil ditertibkan dan diserahkan kepada aparat keamanan sesuai SOP. Namun di Garut, kata KH Aqil, polisi kecolongan. Ia cenderung menyalahkan kepolisian lantaran tak menertibkannya.”Kami menyayangkan aparat keamanan yang kecolongan dengan tidak melakukan tindakan terhadap pengibaran bendara organisasi terlarang HTI,” cetus KH Aqil Siradj.

Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menegaskan harusnya polisi melakukan tugas untuk mensterilkan lokasi apel hari santri, terlebih dari bendera organisasi terlarang.”Harusnya itu (bendera) nggak sempat masuk ke arena hari santri,” tegasnya.

Di sini lain, banyak masyarakat yang mendesak Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan induk Banser untuk menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa tersebut.

Akhirnya Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas pun menyampaikan permintaan maaf. Namun, kontekstual permintaan maaf itu bukan ditujukan perihal pembakaran bendera HTI. “Saya Ketum GP Ansor, mewakili kader meminta maaf kepada seluruh masyarakat jika apa yang dilakukan kader memberi kegaduhan dan ketidaknyamanan. Kita minta maaf atas kegaduhan itu. Namun, bukan atas bendera HTI ya,” ucapnya di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya No. 65 A, Jakarta Pusat, Rabu (24/10).

Yaqut melanjutkan alasan PP GP Ansor tidak meminta maaf kepada HTI karena pihaknya yakin jika bendera yang dibakar Banser saat itu adalah bendera HTI. Eksistensi HTI sendiri saat ini sudah dilarang di Indonesia melalui putusan pengadilan. “Kami meyakini bendera yang dibakar itu bendera HTI. Kami tidak akan minta maaf kepada HTI. Karena kami dan mereka jelas berbeda,” tandasnya.(rga/ zen/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.