Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3%

19.8%

7.3%

69.9%

Karantina Mikro di Buninagara Kota Tasik Disekat Jemuran & Pintu Bekas

262
0

TASIK – Karantina Mikro di salah satu RT Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes tidak disertai penjagaan khusus. Penutupan akses pun dilakukan dengan alakadarnya, seperti menggunakan pintu bekas dan tempat jemuran.

Pantauan Radar, Rabu siang (3/6) lingkungan RT yang dikarantina merupakan pemukiman di dalam gang. Beberapa akses gang memang ditutup dengan benda-benda sederhana, namun tidak dijaga petugas.

Baca juga : 3 Ribu Warga Kota Tasik Double Bantuan

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat mengatakan bahwa program karantina mikro tersebut dari Pemprov Jabar.

Tidak dilakukannya penjagaan khusus, supaya lebih mengedepankan kepedulian dari warga sekitar.

“Ada pendekatan khusus jadi dikedepankan kemandirian dari masyarakat,” ungkapnya kemarin.

Jika hasil swab test yang dilakukan sebelumnya, ada muncul hasil pasien positif, baru ada peningkatan pengawasan.

Rencananya, hasil swab test tersebut akan keluar lebih cepat karena melalui program khusus. “Mudah-mudahan besok (hari ini, Red) juga bisa keluar,” ujarnya.

Dijelaskan dr Uus, program karantina mikro ini merupakan pilot project yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sehingga perkembangannya masih akan terus dievaluasi untuk perbaikan.

“Ini baru pilot project jadi wajar jika ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki,” tuturnya.

Ketua RT setempat, Lili Ramli mengakui tidak ada penjagaan khusus bagi warga yang menjalani karantina mikro. Pengawasan pun hanya dilakukan di jam-jam tentu. “Jadi tidak terus menjaga di lokasi,” terangnya.

Lili mengoreksi bahwa ada sembilan rumah yang menjadi fokus karantina mikro di lingkungan tersebut.

Total penghuninya berjumlah 43 jiwa dengan usia bervariasi. “Anak yang masih balita juga ada,” tuturnya.

Suplai untuk mereka sejauh ini adalah nasi bungkus dan obat-obatan. Diakuinya hal itu tidak cukup, idealnya suplai berupa sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Tadi juga sudah dibahas dengan RW, kebutuhan yang diperlukan itu sampai ke peralatan mandi juga,” terangnya.

Pihaknya berharap ada tambahan suplai untuk warganya yang dikarantina di rumah masing-masing.

Sementara pihaknya akan berupaya melakukan swadaya dengan meminta sumbangan dari warga. “Mudah-mudahan mampu, kalau tidak mampu ya mau bagaimana lagi,” katanya.

Sebelumnya diketahui,delapan kepala keluarga (KK) di salah satu RT Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya mulai menjalani karantina mikro, Selasa (2/6).

Namun suplai untuk kebutuhan mereka hanya sekadar nasi bungkus dan obat-obatan.

Camat Kecamatan Cipedes Sofyan ZM menyebutkan 100 warga sudah melaksanakan swab test masal. Untuk hasilnya, kemungkinan bisa keluar dalam dua hari ke depan.

“Karena ini program khusus, jadi lebih cepat,” ungkapnya kepada Radar, kemarin.

Menurutnya, meski swab test memang bukan hanya kepada orang yang sudah melakukan kontak dengan pasien positif saja. Namun seluruh warga di RT tersebut diperiksa sebagai antisipasi.

“Fokusnya memang yang 30 orang, tapi karena logistik (peralatan medis, Red) banyak kita periksa warga lainnya di RT tersebut,” terangnya.

Selanjutnya, kata Sofyan, karantina mikro untuk lingkungan itu pun mulai berjalan. Khususnya penghuni delapan rumah yang sebelumnya sudah ada kontak dengan pasien positif Covid-19.

“Kalau karantinanya se-RT, tapi khusus yang delapan rumah sama sekali tidak boleh keluar rumah,” terangnya.

Untuk kebutuhannya sehari-hari, sambung dia, akan disuplai oleh pemerintah berupa nasi bungkus dan obat-obatan. Distribusinya akan dilakukan setiap hari.

“Untuk nasi bungkus dari Dinsos, kalau obat dari Puskesmas suplainya,” terang dia.

Diakui Sofyan, warga di delapan rumah yang dikarantina memang mengeluhkan suplai alakadarnya. Karena kebutuhan mereka tidak hanya sebatas makan dan obat.

Baca juga : Diskon Perlengkapan & Kebutuhan Bayi di SP Tasikmalaya

“Untuk perempuan kan butuh pembalut, untuk anak butuh pampers dan kebutuhan lainnya,” kata dia.

Selain itu, penghasilan mereka pun harus terhenti karena tidak bisa keluar rumah. Ini menjadi dilema tersendiri bagi pihaknya. “Sebab memang tidak ada anggaran khusus untuk pelaksanaan karantina mikro ini,” tuturnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.