Kasatlantas Polresta Tasik : Ini Kerugian Pasang Knalpot Racing di Motor Injeksi

55
0
radartasikmalaya
Satlantas Polresta Tasik mengamankan motor yang menggunakan knalpot racing saat Operasi Yustisi Prokes di Linggajaya, Mangkubumi, Senin (18/01) siang. rezza rizaldi / radartasikmalaya.com
Loading...

KOTA TASIK – Knalpot aftermarket yang dijual di toko aksesories atau knalpot free flow biasa dikenal knalpot bobokan untuk motor standar atau pemakaian harian, ternyata memiliki banyak efek samping yang merugikan.

Penggunaan motor injeksi menggunakan racing ini banyak didapati di Kota Tasik.

Satlantas Polresta Tasik sering mendapati para pemuda menggunakan motor dengan knalpot tak standar ini.

Seperti Senin (18/01) siang, Satlantas Polresta Tasik melakukan Operasi Yustisi Pelanggaran Protokol Kesehatan (Prokes) di Bunderan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi.

Dalam kurun waktu 2 jam, Satlantas menjaring 2 motor berknalpot racing di lokasi tersebut.

loading...

Kedua motor itu langsung dilakukan penindakan secara tegas.

Kasatlantas Polresta Tasik, AKP Bayu Tri Nugraha mengatakan, seharusnya pengguna motor berfikir ulang untuk menggunakan knalpot tak standar.

“Sebaiknya kita berpikir ulang sebelum mengganti knalpot standar pabrikan dengan knalpot racing atau bobokan,” paparnya kepada radartasikmalaya.com.

“Kita harus membandingkan sisi keuntungan dan kerugian dari menggunakan knalpot non standar ini. Dari sisi performa memang bisa mengail tenaga dan torsi, namun banyak juga kerugian memasang knalpot ala balap ini,” sambungnya.

Terang dia, penggunaan knalpot racing pada motor standar sebenarnya tidak direkomendasikan dan dapat menghilangkan garansi mesin. Selain itu, tidak semua knalpot yang dijual di pasaran bisa menambah akselerasi dan juga top speed.

“Penggantian tanpa adanya penyesuaian setting mesin dan penggantian part kelistrikan hanya akan membuat suara bising ditelinga dan juga membuat motor menjadi lebih boros dalam penggunaan bahan bakar,” terangnya.

Kebanyakan orang yang menggunakan knalpot racing, beber Bayu, hanya membuat mesin motor menjadi lebih cepat panas karena pembakaran kering.

Jika hal ini dibiarkan tentunya akan mempercepat keausan pada komponen ring piston atau ring seher.

“Selain itu juga mesin motor bisa saja ngelitik karena suhu panas. Bila pembakaran yang kering ini dibiarkan bisa menyebabkan pemuaian sehingga celah klep akan menjadi lebih longgar dan efeknya terjadi letupan atau tembak saat gas dilepas,” bebernya.

Dia menambahkan, penggunaan knalpot bising secara berkala selama bertahun-tahun, bisa mengakibatkan gangguan pendengaran.

“Suara bising itu memang tidak terasa dalam waktu dekat, namun dampaknya mulai terasa setelah lima tahun biasanya orang tersebut akan kurang pendengarangan,” tambahnya.

Jelas dia, aturan soal pemakaian knalpot aftermarket di motor dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomot 07 tahun 2009 tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor menyebutkan batas ambang kebisingan sepeda motor yakni untuk tipe 80 cc ke bawah maksimal 85 desibel (db).

“Lalu, tipe 80-175cc maksimal 90 db dan 175cc ke atas maksimal 90 db. Knalpot free flow (bobokan) juga seringkali dianggap tidak memenuhi persyaratan teknis dan melanggar pasal 285 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009,” jelasnya.

Selain melanggar beragam aturan dan tidak memenuhi spesifikasi teknis, tukas dia, pemasangan knalpot bising pastinya juga akan mengganggu kenyamanan dari suara yang dihasilkan.

Sanksi sosial pun menanti para pengguna knalpot yang bersuara bising tersebut.

“Lantaran suara yang ditimbulkan sangat keras, orang akan merasa terganggu dengan kehadiran sepeda motor dengan suara yang keras akibat memakai knalpot racing. Setidaknya pengguna knalpot umumnya dibenci dan disumpah serapah hingga diumpat oleh masyarakat sekitar,” tukasnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.