Kasihan, 9 Bayi di Kota Cirebon Positif HIV/AIDS

30
Sekretaris KPA Kota Cirebon Sri Maryati memberikan penjelasan terkait jumlah penderita HIV/AIDS.

CIREBON – Penularan virus HIV/AIDS di Kota Cirebon masih cukup mengkhawatirkan. Tidak hanya menimpa orang dewasa, tapi positif dialami bayi yang baru lahir. Tahun ini, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon mencatat ada 9 bayi positif HIV sejak lahir.

Sekretaris KPA Kota Cirebon Sri Maryati mengatakan penularan virus HIV kepada bayi karena ditemukan sebelum bayi dilahirkan. Sehingga pihaknya tidak dapat melakukan upaya pencegahan sejak awal.

“Beberapa program pencegahan penularan ibu ke bayi memang ada. Tapi kalau yang bayi 9 kasus ini, diketahui sebelum melahirkan. Sehingga tidak tercegah positif HIV-nya si bayi. Jadi, kami mengetahui bahwa si ibu positif HIV dan bayinya langsung dilakukan tes. Ternyata positif,” ujar Sri.

Menurutnya, kasus 9 bayi positif HIV saat lahir merupakan jumlah yang cukup banyak. Artinya setiap bulan ada satu bayi positif HIV.

Dikatakan, program pencegahan penularan dari ibu ke bayi yang dimaksud adalah dengan memberikan obat ARV profilaksis, yang dikonsumsi oleh bunya.

Konsumsi obat tersebut bagi perempuan positif HIV dilakukan sejak usia kehamilan 0 bulan, sehingga si anak saat dilahirkan dapat terbebas atau negatif HIV.

“Karena sebetulnya ibu-ibu hamil yang didapati positif HIV, banyak juga yang anak-anaknya yang negatif. Banyak  yang berhasil,” katanya.

Jumlah 9 kasus, diakui Sri, merupakan kasus yang terjadi setelah dilakukan pencegahan untuk menekan penularan daru ibu ke bayi. Yaitu dengan memberikan ARV profilaksis seumur hidup. “Itu sudah ditekan sedemikian rupa. Kalau tidak ada program, akan jauh lebih besar,” tuturnya.

Lebih lanjut, kasus 9 bayi positif HIV, merupakan bagian dari total 58 kasus HIV yang ditemukan periode Januari-Oktober tahun ini.

Sedangkan total kasus HIV/AIDS di Kota Cirebon sejak tahun 2006, tercatat sebanyak 984 kasus. Itu sekaligus menghantarkan Kota Cirebon masuk dalam 10 besar kota dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Barat.

Sedangkan di Wilayah 3, Kota Cirebon di urutan ketiga setelah Indramayu dan Kabupaten Cirebon.

“Dengan jumlah penduduk yang 300 ribu sekian, jumlah 984 kalau diprosentasikan di antara se wilayah 3 kita juga termasuk tinggi. Walaupun hanya 439 yang ber-KTP Kota Cirebon, sisanya luar Kota Cirebon. Tetapi kita tak bisa menafikan, karena berda di Kota Cirebon melakukan aktivitas dan kegiatan dan sebagainya,” jelasnya.

Selain pencegahan, program KPA mencegah penularan virus HIV adalah dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Hal itu agar masyarakat tidak mengisolasi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Masyarakat juga tidak perlu takut, lantaran penularan virus hanya terjadi melalui jarum suntik, darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu yang terinfeksi.

“Sisanya dampak sosial tidak akan tertular. Namun yang jelas bahwa penyebab utamanya yaitu melalui hubungan seksual yang berisiko. Baik yang heteroseksual maupun homoseksual,” pungkasnya. (day)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.